Terakhir diperbarui: 12-04-2026, 05:13
Americas
The Fed tetap dovish‑cautious, risiko inflasi kembali menguat. Risalah FOMC Maret menunjukkan sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi bertahan di atas target, dengan mayoritas menilai risiko inflasi meningkat akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Meski suku bunga tetap dipertahankan di kisaran 3,5%–3,75%, The Fed masih memberi sinyal pemangkasan bertahap pada 2026–2027, dengan timing tetap sangat bergantung pada dinamika inflasi dan pasar tenaga kerja.
Harga WTI rebound akibat rapuhnya gencatan senjata. WTI naik lebih dari 2% mendekati USD97 per barel setelah eskalasi baru di Lebanon meragukan keberlanjutan gencatan senjata Timur Tengah, sementara gangguan lalu lintas tanker di Selat Hormuz—jalur sekitar 20% aliran minyak dan gas global—tetap menopang risiko pasokan dan volatilitas harga energi meski ada sinyal diplomasi untuk pembukaan kembali
Yield Treasury AS stabil di tengah ketidakpastian gencatan senjata. Imbal hasil US Treasury 10 tahun bergerak mendatar setelah menghapus penurunan sekitar 7 bps, menyusul klaim Iran bahwa AS melanggar kesepakatan gencatan senjata yang kembali memicu kekhawatiran kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi. Lonjakan biaya energi sejak awal konflik turut meningkatkan kekhawatiran inflasi di kalangan pejabat Fed, dengan pasar kini menanti rilis CPI AS yang diperkirakan melonjak ke level tertinggi dua tahun.
Europe
Penjualan ritel dan harga produsen Zona Euro melemah di Februari. Penjualan ritel Zona Euro turun tipis 0,2% MoM pada Februari 2026 setelah stagnan di Januari, seiring penurunan penjualan makanan, minuman, dan tembakau. Secara tahunan, pertumbuhan ritel melambat menjadi 1,7% YoY dari 2,1%. Di sisi hulu, tekanan harga mereda dengan Producer Price Index turun 0,7% MoM dipicu penurunan harga energi, sehingga inflasi harga produsen secara tahunan turun 3%, terdalam sejak Oktober 2024.
Yield Eropa turun tajam usai gencatan senjata AS–Iran redam risiko energi. Imbal hasil obligasi Eropa dan Inggris anjlok setelah kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran menekan harga minyak dan gas, meredakan kekhawatiran inflasi. Yield gilt Inggris 10 tahun turun sekitar 20 bps ke 4,65%, Bund Jerman turun 15 bps ke 2,93%, OAT Prancis jatuh 25 bps ke 3,55%, dan BTP Italia merosot 30 bps ke 3,68%. Penurunan risiko geopolitik mendorong pasar memangkas ekspektasi pengetatan kebijakan, dengan proyeksi kenaikan suku bunga ECB pada 2026 dipangkas menjadi dua kali, sementara peluang kenaikan BoE tahun ini menyusut menjadi satu kali saja.
Asia
RBNZ dan RBI tahan suku bunga, fokus cermati tekanan inflasi energi. RBNZ mempertahankan suku bunga di 2,25% dengan sikap hati‑hati karena konflik Timur Tengah meningkatkan risiko inflasi jangka pendek sekaligus melemahkan pemulihan ekonomi, sambil membuka opsi pengetatan bila tekanan harga memburuk. RBI juga menahan repo rate di 5,25% dan menjaga stance netral, sembari merevisi naik proyeksi pertumbuhan FY2025/26 menjadi 7,6% dan menilai inflasi tetap terkendali, meski risiko dari volatilitas energi dan geopolitik masih diawasi ketat.
Yield Jepang dan Australia turun pasca gencatan senjata AS–Iran. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dan Australia melemah setelah tercapainya gencatan senjata dua pekan yang membuka kembali Selat Hormuz dan menurunkan tensi geopolitik serta tekanan harga energi. Penurunan risiko ini meredakan kekhawatiran inflasi impor dan membuat pasar memangkas ekspektasi pengetatan moneter lanjutan, meski peluang kenaikan suku bunga BOJ dan RBA belum sepenuhnya hilang seiring proses normalisasi pasokan energi yang diperkirakan bertahap.
