stocks

    Fixed Income Daily Notes 16 Maret 2026

    Perusahaan

    Fixed Income

    Terbit Pada

    16 March 2026 - 07.34am
    vector
    pdf icon

    PDF

    Fixed Income Daily Notes 16 Maret 2026

    Lihat

    Terakhir diperbarui: 17-03-2026, 05:36

    Americas

    PDB AS Q4 melambat ke 0,7% sementara core PCE naik 3,1% YoY pada Januari.
    Ekonomi AS tumbuh 0,7% QoQ pada 4Q25 karena konsumsi melambat dan ekspor jatuh lebih dalam. Belanja rumah tangga naik 2% namun lebih rendah dari estimasi awal, sementara investasi tetap hanya tumbuh 1,6%. Ekspor turun 3,3% dan belanja pemerintah kontraksi 5,8% akibat shutdown, menekan pertumbuhan secara keseluruhan. Untuk 2025, PDB tumbuh 2,1%, di bawah 2,2% estimasi awal. Pada Januari 2026, core PCE (indikator inflasi favorit The Fed) naik 0,4% MoM dan 3,1% YoY, tertinggi hampir dua tahun dan tetap jauh di atas target 2%, menandakan tekanan harga inti masih kuat.

    UST 10Y naik ke 4,27% dan dolar menguat di tengah eskalasi konflik Iran.
    Yield Treasury AS 10Y bergerak kembali ke sekitar 4,27%, mendekati level tertinggi empat minggu, setelah Defense Secretary Hegseth menyatakan AS akan melancarkan gelombang serangan terbesar terhadap Iran. Harga minyak juga pulih dan bertahan di level tertinggi sejak 2022, memicu kekhawatiran inflasi berbasis energi serta risiko pelebaran defisit fiskal terkait belanja perang. Di sisi lain, indeks dolar menguat di atas 100,3 karena permintaan safe haven meningkat, dengan pasar kini hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang 2026 jelang FOMC pekan depan.

     

    Europe

    Ekonomi Inggris stagnan pada Januari sementara harga grosir Jerman naik. PDB Inggris tidak tumbuh pada Januari setelah naik 0,1% pada Desember dan di bawah ekspektasi 0,2%, dengan jasa stagnan akibat penurunan besar pada aktivitas administratif dan penyewaan, sementara sektor produksi melemah 0,1% meski konstruksi tumbuh tipis. Secara YoY, ekonomi naik 0,8% dan tumbuh 0,2% dalam tiga bulan hingga Januari. Di Jerman, harga grosir naik 1,2% YoY pada Februari, sementara bahan pangan tertentu naik moderat dan komponen seperti biji‑bijian serta produk susu turun.

      

    Yield di Eropa naik tajam akibat ekspektasi bank sentral makin hawkish. Yield gilt Inggris 10Y melonjak di atas 4,7% (tertinggi sejak Oktober) karena harga minyak yang kembali melewati USD100 per barel memicu ekspektasi pasar bahwa BoE dapat menaikkan suku bunga tahun ini, meski ekonomi UK stagnan pada Januari. Di zona euro, Bund Jerman 10Y naik ke 2,96%, BTP Italia 10Y mendekati 3,8%, dan OAT Prancis 10Y melewati 3,65%, seluruhnya didorong kekhawatiran inflasi akibat gangguan suplai di Selat Hormuz dan skeptisisme bahwa pelepasan cadangan energi mampu menahan kenaikan harga. Money market kini mem‑price in dua kenaikan suku bunga ECB tahun ini, berbalik dari ekspektasi tidak ada perubahan bulan lalu, dengan pasar menunggu sinyal lebih tegas dari Lagarde pada pertemuan ECB mendatang.

    Asia

    Kredit baru China turun pada Februari di tengah lemahnya permintaan. 
    Bank di China menyalurkan kredit baru sebesar CNY900 miliar pada Februari, turun dari CNY1,009 triliun setahun sebelumnya dan sedikit di bawah ekspektasi, menandai penurunan tahunan kedelapan berturut‑turut seiring melemahnya permintaan pinjaman dan upaya pembatasan kapasitas di sektor manufaktur tertentu. Meski begitu, aggregate financing justru naik ke CNY2,38 triliun dari CNY2,23 triliun, melampaui perkiraan berkat meningkatnya pembiayaan non‑bank meskipun penerbitan obligasi pemerintah melambat.

    Yield JGB naik sementara yen melemah akibat risiko inflasi impor. Yield Jepang 10Y naik ke atas 2,21% mendekati level tertinggi sebulan setelah Gubernur BOJ Ueda memperingatkan pelemahan yen dapat memperburuk inflasi impor di tengah reli minyak, sehingga bisa mempercepat normalisasi kebijakan. Konflik Iran yang terus eskalatif, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz dan serangan ke infrastruktur energi regional, mendorong harga minyak lebih tinggi dan menekan sentimen. Yen diperdagangkan dekat 159,4 per USD, memicu spekulasi intervensi setelah Menteri Keuangan Katayama menegaskan kesiapan mengambil langkah stabilisasi.