Terakhir diperbarui: 16-04-2026, 06:09
Americas
Tekanan harga produsen AS menguat, dipicu lonjakan energi. Indeks harga produsen AS naik 0,5% MoM pada Maret 2026, sesuai bulan sebelumnya namun di bawah ekspektasi pasar, dengan kenaikan harga barang sebesar 1,6% didorong lonjakan biaya energi 8,5% terkait konflik Iran. Harga jasa stagnan, sehingga inflasi inti PPI melambat ke 0,2% MoM, meski secara tahunan PPI tetap meningkat 4,0% YoY. Data ini menegaskan tekanan inflasi hulu masih bertumpu pada energi, sementara tekanan inti mulai menunjukkan moderasi.
Harga minyak mentah jatuh di bawah USD90, emas bertahan tinggi. Harga minyak mentah melemah seiring ekspektasi dimulainya kembali perundingan damai AS–Iran sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir. Data lonjakan stok minyak AS juga menambah sentimen. Di sisi lain, harga emas bertahan di atas USD4.800 per ons, ditopang pelemahan dolar AS, meredanya ekspektasi kebijakan moneter hawkish, dan harapan tercapainya kesepakatan geopolitik yang menurunkan risiko inflasi berbasis energi.
Yield Treasury stabil, dolar melemah di tengah harapan de‑eskalasi. Imbal hasil US Treasury 10 tahun bertahan di sekitar 4,29%, mendekati level terendah terbaru, seiring harapan berlanjutnya negosiasi AS–Iran yang menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi. Optimisme gencatan senjata dan potensi pembukaan Selat Hormuz turut memangkas ekspektasi sikap Fed yang lebih hawkish, sementara indeks dolar melemah ke sekitar 98. Data AS menunjukkan tekanan harga produsen lebih rendah dari perkiraan dan pasar tenaga kerja tetap solid, menopang sentimen risk‑on terbatas.
Europe
Tekanan harga di Eropa menguat dipicu lonjakan energi. Harga grosir Jerman melonjak 4,1% YoY pada Maret 2026, laju tercepat sejak awal 2023, didorong kenaikan tajam produk minyak serta logam non‑ferrous, yang juga mendorong kenaikan bulanan 2,7% MoM. Sejalan dengan itu, inflasi Spanyol direvisi naik ke 3,4% YoY, tertinggi sejak Juni 2024, dengan lonjakan biaya transportasi dan energi akibat konflik Iran menjadi pendorong utama.
Yield Eropa turun terbatas seiring meredanya tekanan harga minyak. Imbal hasil obligasi utama Eropa dan Inggris turun tipis setelah harga minyak kembali ke bawah USD100 per barel, didorong harapan dimulainya kembali negosiasi AS–Iran sebelum gencatan senjata berakhir. Meski kekhawatiran inflasi energi sempat mereda, yield masih bertahan dekat level tertinggi multi‑tahun karena pasar tetap memproyeksikan sikap bank sentral yang hawkish, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga ECB dan BOE hingga 2026 masih terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik.
Asia
Surplus dagang China menyempit, pengangguran Korea Selatan turun. Surplus perdagangan China menyusut tajam pada Maret 2026 seiring perlambatan ekspor karena faktor musiman dan lonjakan impor yang mencerminkan kebutuhan pasokan dan pembelian teknologi. Di sisi lain, pasar tenaga kerja Korea Selatan menunjukkan perbaikan dengan tingkat pengangguran turun ke level terendah sejak Oktober, didukung penciptaan lapangan kerja yang solid.
Yield Jepang dan Australia turun di tengah harapan negosiasi AS–Iran. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,45% dari level tertinggi hampir tiga dekade seiring pelemahan harga minyak dan meningkatnya optimisme kelanjutan dialog AS–Iran, sehingga menurunkan tekanan inflasi energi dan membuat peluang kenaikan suku bunga BOJ bulan ini turun ke sekitar 40%. Di Australia, yield 10 tahun turun ke bawah 5% meski tetap dekat level tertinggi multi‑tahun, dengan pasar masih mematok peluang kenaikan suku bunga RBA sekitar 72% setelah bank sentral menegaskan komitmen membawa inflasi kembali ke target di tengah keyakinan konsumen melemah tajam akibat lonjakan harga BBM dan suku bunga yang lebih tinggi.
