Terakhir diperbarui: 16-07-2026, 05:59
Americas
Pejabat The Fed masih berhati-hati terhadap risiko inflasi. Gubernur The Fed Christopher Waller menilai inflasi masih menghadapi risiko dari tarif, harga energi, dan kuatnya permintaan terkait AI, namun menekankan bahwa bank sentral perlu menunggu data tambahan sebelum memutuskan langkah kebijakan berikutnya. Waller menyebut masih terdapat peluang inflasi kembali menurun dalam beberapa bulan ke depan, sehingga mempertahankan suku bunga pada level saat ini tetap menjadi skenario yang masuk akal apabila tren disinflasi berlanjut, meskipun risiko inflasi lebih tinggi belum sepenuhnya mereda.
Harga minyak melonjak kembali seiring tutupnya Selat Hormuz. Crude oil naik lebih dari 10% secara mingguan setelah AS kembali memperketat akses kapal Iran di Selat Hormuz dan meningkatkan tekanan terhadap ekspor energi Iran, memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Di sisi lain, harga emas bertahan di bawah USD4.000 per ons karena lonjakan harga energi kembali mendorong ekspektasi inflasi dan memperkuat kemungkinan suku bunga The Fed bertahan lebih tinggi untuk lebih lama, dengan fokus pasar kini tertuju pada data inflasi AS dan kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh.
Yield UST naik mendekati 4,60% di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan risiko geopolitik. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,59%, tertinggi dalam hampir dua bulan, setelah eskalasi ketegangan AS–Iran dan ketidakpastian terkait akses pelayaran di Selat Hormuz mendorong kenaikan harga energi dan kembali memicu kekhawatiran inflasi. Pasar kini menantikan data CPI dan PPI AS serta kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter, dengan probabilitas kenaikan suku bunga di September yang masih berada di level tinggi.
Europe
Penjualan ritel Inggris tetap tumbuh meski laju konsumsi mulai melambat. Penjualan ritel Inggris meningkat 1,7% YoY pada Juni 2026, melambat dari pertumbuhan 3,4% pada bulan sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi pasar, meski masih didukung oleh tingginya belanja terkait Piala Dunia, cuaca panas, serta peningkatan transaksi online. Perlambatan ini mengindikasikan konsumsi rumah tangga masih bertahan namun mulai kehilangan momentum, dengan ketidakpastian politik dan risiko geopolitik.
Yield obligasi Eropa naik di tengah meningkatnya risiko inflasi. Yield gilt Inggris tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,91% dan Bund Jerman ke 3,05% setelah eskalasi konflik AS–Iran kembali mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa BoE dan ECB masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, terutama apabila gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz terus berlanjut dan kembali menekan proses disinflasi di Eropa.
Asia
Pertumbuhan ekonomi Singapura tetap kuat, sementara kepercayaan bisnis Selandia Baru membaik. Ekonomi Singapura tumbuh 5,7% YoY pada kuartal II-2026, melambat dari 6,3% pada kuartal sebelumnya namun masih melampaui ekspektasi pasar, didukung terutama oleh sektor manufaktur yang tumbuh 12,2% berkat tingginya permintaan terkait AI. Sementara itu, kepercayaan bisnis Selandia Baru berbalik positif pada kuartal II-2026, meskipun dunia usaha masih berhati-hati terhadap prospek ketenagakerjaan, investasi, dan tekanan biaya.
Yield obligasi Asia bervariasi di tengah dinamika inflasi global. Yield JGB tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,7% setelah pemerintah Jepang mendorong dana pensiun domestik meningkatkan kepemilikan aset keuangan Jepang, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap lonjakan yield yang sebelumnya dipicu prospek ekspansi fiskal dan tekanan inflasi. Sementara itu, yield obligasi Australia tenor 10 tahun naik di atas 4,9% karena pasar masih mencermati risiko inflasi dari ketegangan di Timur Tengah dan potensi kenaikan suku bunga lanjutan, meskipun ekspektasi pasar terhadap tambahan pengetatan RBA tetap terbatas.
