bonds

    Fixed Income Daily Notes 11 Maret 2026

    Perusahaan

    Fixed Income

    Terbit Pada

    11 March 2026 - 07.48am
    vector
    pdf icon

    PDF

    Fixed Income Daily Notes 11 Maret 2026

    Lihat

    Terakhir diperbarui: 13-03-2026, 05:52

    Americas

    Sentimen usaha kecil AS melemah seiring prospek penjualan meredup.
    Indeks NFIB Small Business Optimism turun untuk kedua bulan berturut ke level 98,8 pada Februari, di bawah ekspektasi 99,7, dengan pelaku usaha kecil melihat ketidakpastian tetap tinggi meski peningkatan penjualan dan laba memberikan sedikit dukungan. Ekspektasi usaha terhadap penjualan riil merosot delapan poin menjadi net 8%, sementara masalah kualitas tenaga kerja turun ke 15%.

    WTI kembali turun dipicu peluang berakhirnya perang di Timur Tengah. WTI turun 15% ke kisaran USD80 per barel setelah sempat mendekati USD120, dipicu sinyal intervensi global untuk meredam dampak perang Iran termasuk pertemuan darurat IEA dan permintaan G7 terkait opsi pelepasan cadangan strategis. Presiden Trump juga membuka peluang relaksasi sanksi dan pengamanan jalur pengiriman minyak, sekaligus memberi sinyal kesiapan berdialog dengan Iran.

    UST 10Y stabil seiring meredanya kekhawatiran inflasi dari energi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,1%, lebih rendah dari level tertinggi hampir sebulan di 4,15% setelah penurunan harga energi meredakan tekanan inflasi. Pernyataan Presiden Trump bahwa konflik dengan Iran dapat segera berakhir turut menurunkan kekhawatiran atas harga energi yang tinggi berkepanjangan. Harga minyak dan gas melemah lebih jauh setelah G7 meminta IEA mengevaluasi potensi pelepasan cadangan strategis. Di pasar suku bunga, pelaku melihat peluang tambahan pemangkasan Fed tahun ini, didorong sinyal disinflasi dan data ketenagakerjaan yang rapuh—dengan hampir 100.000 pekerjaan hilang pada Februari dan tingkat pengangguran naik tak terduga.

     

    Europe

    ECB siap menjaga inflasi meski harga energi melonjak. Dalam wawancara Selasa, Christine Lagarde menegaskan bahwa ECB akan menempuh langkah apa pun yang diperlukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali di tengah kenaikan terbaru harga energi, seraya memastikan Eropa tidak mengulang lonjakan harga seperti 2022–2023. Ia menyebut kawasan kini lebih siap menghadapi guncangan energi berkat kebijakan yang lebih kuat dan ketahanan ekonomi yang meningkat dibanding periode krisis sebelumnya.

      

    Yield Eropa melemah setelah ekspektasi meredanya konflik.
    Yield Swiss 10Y turun menuju 0,36% di tengah inflasi yang masih sangat rendah di 0,1% dan risiko penguatan franc, kemudian disusul Bund Jerman 10Y yang melemah ke 2,84% sejalan turunnya harga minyak di bawah USD100 per barel. Pergerakan serupa juga terlihat pada gilt Inggris 10Y yang terkoreksi ke 4,49% dari 4,59%, karena pasar menilai tekanan inflasi bisa berkurang lebih cepat. Penurunan tiga yield utama Eropa ini dipicu sentimen yang sama: komentar Presiden Trump bahwa konflik Iran dapat segera berakhir serta turunnya harga energi, yang bersama‑sama menurunkan kekhawatiran inflasi dan mengangkat kembali peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral, terutama BoE.

    Asia

    Surplus dagang China melonjak. Surplus dagang China mencapai USD213,62 miliar pada dua bulan pertama 2026, jauh melampaui ekspektasi berkat ekspor yang melesat 21,8% YoY dan impor yang naik 19,8% YoY, keduanya menandai laju tercepat dalam beberapa tahun. Kinerja kuat ini mencerminkan permintaan global yang solid serta konsumsi domestik yang meningkat selama musim perayaan, dengan data Januari–Februari digabung untuk menghaluskan distorsi Tahun Baru Imlek.

    Yield Jepang dan China bervariasi. Yield Jepang 10Y melemah ke 2,17% karena harga energi yang menurun menekan risiko inflasi, diperkuat revisi naik PDB dan kenaikan upah yang mendukung normalisasi BOJ. Sebaliknya, yield China 10Y naik di atas 1,81% berkat data perdagangan yang solid dan surplus rekor yang mengangkat sentimen. Perbedaan arah ini mencerminkan sensitivitas negara tersebut terhadap energi dan momentum ekonomi yang bergerak tidak sejalan.