BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    SKK MIGAS PROYEKSIKAN ICP 2027 DI LEVEL 80 DOLAR AS PER BAREL

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    03 June 2026

    15357830

    IQPlus, (3/6) - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto memproyeksikan rata-rata harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada 2027 berada di level 80 dolar AS per barel.

    "Untuk 2027, perkiraan kami ICP sebesar 80 dolar AS per barel," ujar Djoko Siswanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu.

    Angka tersebut lebih tinggi 10 dolar AS per barel apabila dibandingkan dengan ICP yang termaktub dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni sebesar 70 dolar AS per barel.

    Akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, rata-rata ICP dari Januari 2026 hingga Mei 2026 menyentuh 86 dolar AS per barel.

    Meskipun demikian, Djoko menyampaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir tahun 2026, sebab rata-rata ICP belum mencapai 100 dolar AS per barel.

    "Untuk ICP, realisasi 2026 sampai dengan bulan Mei 86 dolar AS per barel. Nah, ini yang menyebabkan harga Pertalite dan solar subsidi tetap tidak naik sampai akhir tahun, karena targetnya, dananya cukup apabila ICP tidak mencapai 100," kata Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto.

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sebesar 117,31 dolar AS per barel.

    Harga tersebut melonjak 15,05 dolar AS dibandingkan Maret 2026 yang tercatat 102,26 dolar AS per barel.

    Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman, berbagai perkembangan sepanjang April 2026 turut memberikan tekanan terhadap pasar minyak dunia, mulai dari gejolak Selat Hormuz, blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, hingga serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

    Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

    Selain faktor geopolitik, pertumbuhan ekonomi China pada triwulan I 2026 yang mencapai 5 persen secara tahunan turut memberikan sentimen positif terhadap permintaan minyak dunia. (end)