PENJELASAN MAREIN SOAL DAMPAK SERANGAN SIBER TERHADAP LAPORAN KEUANGAN 2025
Share via
Terbit Pada
20 August 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 26-06-2026, 09:43:am
23152393
IQPlus, (20/8) - PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk. (Marein atau MREI) memberikan klarifikasi resmi mengenai dampak insiden siber yang dialami perusahaan pada akhir tahun 2025.
Manajemen memastikan seluruh data penting milik klien berada dalam kondisi aman dan tidak mengalami kebocoran. Meski begitu, perusahaan harus mengulang pemrosesan data untuk penyelesaian laporan keuangan audit. Pernyataan tersebut disampaikan jajaran manajemen Marein dalam paparan publik (Public Expose) yang digelar secara daring pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Agenda utama pertemuan ini membahas kinerja perseroan, penanganan insiden siber, keterlambatan laporan keuangan 2025, hingga perubahan susunan pengurus. Acara dihadiri langsung oleh Presiden Direktur Robby Loho, Direktur Keuangan Lukcimo Jahja, serta Direktur Anwar Cipto Syamsul.
Presiden Direktur Marein, Robby Loho, menjelaskan bahwa serangan siber tersebut hanya berdampak pada data hasil olahan dan tidak merusak data awal (raw data). Kendati demikian, peristiwa ini memicu keterlambatan pada penyelesaian Laporan Keuangan Audit dan Laporan Tahunan Perseroan untuk Tahun Buku 2025. Dampak operasional ini mengharuskan perusahaan mengalokasikan waktu dan tenaga ekstra untuk proses pemulihan.
Manajemen mengungkapkan tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah mengulang proses pencatatan IFRS 17 demi mengoperasikan kembali data laporan keuangan audit 2025. Walaupun proses pemrosesan ulang ini membutuhkan sumber daya yang besar, seluruh data awal bisnis tetap tersimpan utuh dan lengkap. Dengan demikian, arah kebijakan, strategi bisnis, dan operasional perusahaan dipastikan tidak mengalami perubahan.
Guna menanggulangi dampak insiden tersebut, Marein telah mengalokasikan beban biaya pemulihan pada tahun buku 2025 dan 2026. Pengeluaran pada tahun 2026 difokuskan pada tindakan perbaikan infrastruktur teknologi informasi (TI). Langkah ini mencakup penggunaan jasa digital forensik hingga penambahan belanja modal (capex) untuk pengadaan server baru demi memperkuat sistem keamanan.
Dalam hal penanganan investigasi, perseroan menunjuk tim digital forensik profesional yang independen guna mencegah benturan kepentingan. Hasil investigasi tersebut dilaporkan secara berkala kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Marein juga berkoordinasi aktif dengan pihak regulator untuk mengevaluasi keandalan sistem keamanan TI yang berjalan saat ini.
Selain isu keamanan siber, manajemen turut meluruskan spekulasi terkait perubahan susunan Direksi perusahaan. Marein menegaskan bahwa pergantian pengurus murni dilakukan sesuai kaidah Good Corporate Governance (GCG) dan berakhirnya masa jabatan Ibu Trinita Situmeang, bukan karena tekanan dari insiden siber maupun keterlambatan laporan keuangan. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
