Terakhir diperbarui: 01-10-2026, 07:14
Americas
Lowongan kerja AS mulai menunjukkan moderasi. Jumlah lowongan pekerjaan (JOLTS) turun menjadi 7,08 juta pada Agustus 2026, level terendah dalam lima bulan terakhir dan di bawah ekspektasi pasar, dipimpin oleh penurunan permintaan tenaga kerja di sektor kesehatan, jasa profesional, manufaktur, dan konstruksi. Data ini dapat menjadi sinyal awal pelemahan permintaan tenaga kerja, namun belum cukup untuk mengubah pandangan bahwa pasar kerja AS masih berada dalam kondisi yang relatif kuat.
Harga minyak terkoreksi seiring membaiknya pasokan global. Harga minyak Brent bertahan di sekitar USD 96 per barel setelah pulihnya ekspor minyak Timur Tengah mendekati level sebelum konflik dan rencana pelepasan tambahan cadangan minyak strategis (SPR) oleh AS membantu meredakan kekhawatiran pasokan. Meski demikian, harga minyak masih berada pada jalur kenaikan bulanan ketiga berturut-turut karena konflik AS-Iran belum sepenuhnya terselesaikan. Di sisi lain, harga emas bertahan di sekitar USD 4.200 per ons namun tetap tertekan oleh tingginya yield UST dan ekspektasi suku bunga The Fed yang akan bertahan tinggi lebih lama.
Yield UST bertahan di level tertinggi sejak 2007. Yield UST tenor 10 tahun naik di atas 5,27% seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed akibat tingginya harga energi dan minimnya kemajuan negosiasi AS-Iran. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Oktober mendekati 70%, sementara investor juga menantikan rilis data PCE inflation dan ketenagakerjaan AS untuk mengukur arah kebijakan The Fed ke depan.
Europe
Euro tertekan, sementara risiko inflasi Eropa kembali meningkat. Euro melemah ke sekitar USD 1,135, level terendah sejak Mei 2025, seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Di saat yang sama, tekanan inflasi di Eropa kembali menguat, tercermin dari inflasi Spanyol yang naik menjadi 5,0% YoY pada September, level tertinggi dalam tiga tahun, didorong oleh kenaikan harga energi dan bahan bakar.
Yield obligasi Eropa tetap tinggi di tengah risiko inflasi energi. Yield Bund Jerman tenor 10 tahun bertahan di atas 3,6%, level tertinggi sejak 2009, sementara yield Gilt Inggris berada di sekitar 5,4%, tertinggi dalam hampir dua dekade. Kenaikan tersebut didorong oleh harga minyak yang masih berada di atas USD 100 per barel dan ekspektasi bahwa ECB maupun BoE akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama untuk mengendalikan inflasi.
Asia
RBA lanjutkan pengetatan, sementara ekonomi Jepang tetap solid. Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,60%, level tertinggi sejak 2011, seiring masih tingginya tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi, biaya domestik, dan permintaan terkait AI. RBA juga mengindikasikan ruang untuk pengetatan lanjutan apabila inflasi dinilai berisiko menjadi lebih persisten. Sementara itu, indikator ekonomi Jepang menunjukkan aktivitas yang tetap resilien, didukung kondisi pasar tenaga kerja yang kuat meskipun BoJ tetap mencermati risiko inflasi ke depan.
Yield UST terus mencetak level tertinggi sejak 2007. Yield UST tenor 10 tahun naik di atas 5,2% seiring tingginya harga minyak dan minimnya kemajuan negosiasi AS-Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut mendorong pasar semakin memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed, dengan probabilitas kenaikan 25 bps pada Oktober mencapai sekitar 65%. Selain faktor inflasi, data ekonomi AS yang tetap kuat, memburuknya kondisi fiskal, dan meningkatnya kebutuhan pendanaan pemerintah turut menambah tekanan pada pasar obligasi AS dan memperkuat narasi higher for longer bagi suku bunga global.
