bonds

    Fixed Income Daily Notes 30 April 2026

    Perusahaan

    Fixed Income

    Terbit Pada

    30 April 2026 - 08.46am
    vector
    pdf icon

    PDF

    Fixed Income Daily Notes 30 April 2026

    Lihat

    Terakhir diperbarui: 02-05-2026, 18:29

    Americas

    The Fed menahan suku bunga. Federal Reserve mempertahankan suku bunga kebijakan di kisaran 3,5%–3,75% untuk ketiga kalinya berturut‑turut pada April 2026, namun keputusan ini diwarnai voting tidak bulat 8–4, tertinggi sejak 1992. The Fed menegaskan pendekatan data‑dependent dan kesiapan menyesuaikan kebijakan jika risiko meningkat, seraya mencatat konflik Timur Tengah menambah ketidakpastian prospek ekonomi, sementara Powell memastikan tetap menjabat sebagai gubernur setelah masa tugasnya sebagai Chair berakhir.

    Harga minyak melonjak tajam seiring blokade Selat Hormuz berlanjut. Harga minyak WTI melonjak di atas USD108 per barel (+7% daily) dan mencatat kenaikan hampir 15% dalam sepekan, didorong konflik Timur Tengah yang membuat Selat Hormuz tetap tertutup dan memangkas pasokan energi global. Presiden AS Donald Trump menegaskan blokade laut terhadap Iran akan dipertahankan hingga tercapai kesepakatan nuklir, sementara Iran mengancam retaliasi.

    Imbal hasil UST naik tajam pasca FOMC yang bernuansa hawkish. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 7 bps ke 4,42%, tertinggi dalam sebulan, setelah The Fed menahan suku bunga namun mencatat dissent yang lebih hawkish, dengan tiga anggota menentang bahasa pernyataan yang mengisyaratkan pelonggaran. Kenaikan lebih tajam terjadi di tenor pendek, terutama UST 2 tahun yang menembus 3,95%, sementara pasar mulai mem‑price in peluang kenaikan suku bunga sekitar satu banding tiga pada April 2027.

     

    Europe

    Sentimen ekonomi Zona Euro terendah sejak 2020, ekspektasi inflasi melonjak. Indikator Economic Sentiment Zona Euro turun ke 93,0 pada April 2026, level terendah sejak November 2020 dan di bawah ekspektasi, dengan pelemahan terjadi di semua sektor terutama konsumen, jasa, dan ritel seiring meningkatnya kekhawatiran outlook ekonomi akibat perang Iran. Di saat yang sama, ekspektasi inflasi menguat tajam, tercermin dari kenaikan indikator ekspektasi inflasi konsumen dan lonjakan ekspektasi harga jual manufaktur ke level tertinggi lebih dari tiga tahun, menandakan tekanan harga makin dominan meski aktivitas melemah.

    Yield obligasi di Eropa melonjak di tengah lonjakan risiko inflasi dan geopolitik. Imbal hasil gilt Inggris dan bund Jerman tenor 10 tahun menembus 5%, mendekati level krisis 2008, seiring lonjakan harga minyak Brent ke level tertinggi empat tahun akibat kebuntuan perang Iran dan rencana blokade berkepanjangan Selat Hormuz oleh AS, yang mendorong pasar memperkirakan pengetatan BoE lanjutan pada 2026 meski suku bunga diperkirakan ditahan pekan ini, namun memperkuat taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga ECB tahun depan di tengah tekanan inflasi energi dan risiko geopolitik yang berlarut.

    Asia

    Konsumsi Jepang pulih, produksi industri Korea Selatan melambat. Penjualan ritel Jepang naik 1,7% YoY pada Maret 2026 dan berbalik pulih dari penurunan bulan sebelumnya, ditopang kenaikan penjualan otomotif serta sejumlah kategori ritel utama, meski penjualan BBM dan beberapa segmen lain masih melemah. Di Korea Selatan, produksi industri naik tipis 0,3% MoM pada Maret 2026 setelah lonjakan besar Februari, dengan dukungan moderat dari manufaktur dan jasa, namun konstruksi terkontraksi tajam sehingga momentum pemulihan output terlihat lebih moderat memasuki kuartal II.

    Yield JGB naik ke level tertinggi 1997, yen tembus 160 per dolar. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke 2,50%—tertinggi sejak Juli 1997—seiring kenaikan tajam dalam sebulan terakhir, sementara yen melemah menembus 160 per dolar ke level terendah sejak Juli 2024 meski BOJ menahan suku bunga di 0,75%. Melemahnya yen terjadi di tengah berlanjutnya posisi short oleh pelaku pasar yang meragukan efektivitas kenaikan suku bunga maupun intervensi dengan risiko inflasi impor dari pelemahan nilai tukar kian menambah tekanan kebijakan moneter.