Terakhir diperbarui: 24-06-2026, 07:10
Americas
Negosiasi AS–Iran kembali berlanjut, namun ketegangan masih membayangi. Meski pembicaraan dilanjutkan di Swiss, sinyal kedua pihak masih mixed dengan tuntutan tambahan dari Iran dan ancaman lanjutan dari AS, termasuk potensi serangan militer jika kesepakatan tidak tercapai. Ketidakpastian ini membuat risiko terhadap stabilitas pasokan energi tetap tinggi, dengan isu Selat Hormuz kembali menjadi faktor kunci bagi sentimen pasar global.
Harga minyak naik, ketidakpastian geopolitik kembali dorong premi risiko. Kenaikan harga minyak ke atas USD 78 mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan kesepakatan AS–Iran, dengan negosiasi yang masih penuh ketegangan dan potensi eskalasi ulang. Gangguan kembali pada lalu lintas di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menahan pemulihan pasokan, sehingga risiko volatilitas harga energi tetap tinggi dalam jangka pendek meski proses diplomasi masih berlangsung.
Yield UST naik, kombinasi risiko geopolitik dan sinyal hawkish The Fed dorong tekanan. Kenaikan yield US Treasury ke sekitar 4,50% mencerminkan meningkatnya ketidakpastian terkait hubungan AS–Iran yang kembali memicu risiko inflasi melalui harga energi, ditambah proyeksi The Fed yang tetap membuka ruang kenaikan suku bunga di tengah inflasi yang masih tinggi. Penguatan dolar dan pricing pasar terhadap potensi hike dalam beberapa bulan ke depan menegaskan bahwa stance kebijakan moneter masih condong ke arah ketat, meski kondisi pasar tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Europe
Tekanan fiskal UK meningkat, sementara biaya produksi Jerman mulai naik. Kenaikan tajam pinjaman sektor publik Inggris ke £23,3 miliar mencerminkan beban fiskal yang semakin berat, terutama akibat lonjakan biaya bunga utang dan belanja pemerintah, sehingga mempersempit ruang kebijakan ke depan. Di sisi lain, kenaikan PPI Jerman ke 2,2% YoY menunjukkan tekanan biaya kembali meningkat, terutama dari energi, meski momentumnya mulai melambat secara bulanan, sehingga mengindikasikan tekanan inflasi masih ada namun tidak semakin agresif.
Yield Eropa naik, mencerminkan kombinasi tekanan inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Kenaikan yield Bund Jerman ke sekitar 2,95% dan Gilt Inggris ke 4,84% mencerminkan rebound dari level rendah seiring harga minyak yang kembali stabil dan komentar hawkish dari ECB. Ketidakpastian atas negosiasi AS–Iran turut menjaga risiko inflasi tetap tinggi, sehingga pasar masih melihat ruang pengetatan terbatas ke depan meski tekanan energi mulai mereda.
Asia
BOJ lanjutkan normalisasi, inflasi mulai menguat namun masih di bawah target. Pernyataan BOJ yang akan terus menaikkan suku bunga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko inflasi yang dapat melampaui target, terutama akibat pass‑through biaya energi. Meski inflasi headline naik ke 1,5%, level core yang masih di bawah 2% menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya menguat, sehingga jalur pengetatan diperkirakan tetap gradual. Secara keseluruhan, kebijakan BOJ mencerminkan keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan memitigasi risiko perlambatan pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
Yield Jepang naik, tekanan kebijakan dan pelemahan yen jadi fokus utama. Kenaikan yield JGB ke sekitar 2,64% mencerminkan respons pasar terhadap sinyal BOJ yang akan melanjutkan normalisasi suku bunga di tengah risiko inflasi yang meningkat, meski tekanan harga inti masih relatif moderat. Namun, pelemahan yen yang kembali mendekati level terendah sejak 1986 menunjukkan bahwa diferensial suku bunga dengan AS dan penguatan dolar tetap menjadi faktor dominan, sehingga efektivitas kebijakan BOJ dalam menstabilkan mata uang masih terbatas.
