Terakhir diperbarui: 23-04-2026, 22:00
Americas
Belanja ritel AS melonjak didorong lonjakan harga BBM. Penjualan ritel AS naik tajam 1,7% pada Maret 2026, melampaui ekspektasi, menjadi kenaikan terbesar sejak Maret 2025, terutama dipicu melonjaknya pendapatan SPBU 15,5% seiring lonjakan harga bahan bakar akibat eskalasi konflik Iran. Di luar energi, konsumsi tetap solid di hampir semua kategori, terbantu oleh restitusi pajak yang lebih besar dari biasanya. Penjualan inti juga menguat 0,7%, jauh di atas perkiraan, menegaskan ketahanan belanja konsumen meski tekanan harga meningkat.
Minyak bertahan tinggi, emas terus tertekan. Harga WTI tetap di atas USD90 per barel di tengah mandeknya perundingan AS–Iran dan terbatasnya pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menjaga tekanan pasokan meski gencatan senjata diperpanjang. Sebaliknya, emas melemah ke bawah USD4.750/ons, tertekan oleh runtuhnya rencana negosiasi lanjutan dan sentimen kebijakan moneter AS.
UST naik terbatas di tengah suksesi Chairman The Fed. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,3%, namun masih di bawah puncak Maret, seiring eskalasi ketegangan Timur Tengah yang mendorong harga minyak lebih tinggi dan menjaga risiko inflasi tetap dominan. Ketidakpastian berlanjut, Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup dan belum jelasnya partisipasi Iran dalam perundingan lanjutan. Di sisi kebijakan, pasar mencermati sidang konfirmasi Senat untuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed, yang menyerukan perubahan rezim kebijakan menambah kehati‑hatian investor terhadap arah suku bunga dan likuiditas ke depan.
Europe
Sentimen ekonomi Eropa melemah tajam akibat konflik Timur Tengah. Indikator sentimen ZEW untuk Zona Euro dan Jerman anjlok ke level terendah sejak akhir 2022 pada April 2026, mencerminkan meningkatnya pesimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi. Eskalasi konflik Timur Tengah memicu kekhawatiran kenaikan harga energi dan risiko kelangkaan pasokan jangka panjang, yang berpotensi menekan investasi dan memperlemah aktivitas ekonomi, dengan tekanan paling nyata terlihat di sektor industri utama Jerman.
Yield Eropa tetap tinggi di tengah tekanan inflasi dan geopolitik. Imbal hasil Bund Jerman bertahan mendekati 3% karena kekhawatiran inflasi dan prospek ekonomi yang masih tidak pasti, sementara sentimen investor memburuk. Di Inggris, yield Gilt 10 tahun mendekati 4,85%, terdorong eskalasi ketegangan AS–Iran dan ketidakpastian politik domestik.
Asia
Korsel dan Selandia Baru hadapi tekanan ketidakpastian global. Gubernur baru Bank of Korea menyatakan kebijakan akan bersikap hati‑hati dan fleksibel karena konflik Timur Tengah memicu tekanan inflasi sekaligus melemahkan pertumbuhan. Di Selandia Baru, kepercayaan bisnis turun tajam ke level terendah sejak 2024 akibat kenaikan biaya dan ketidakpastian permintaan. Kondisi ini mengindikasikan risiko perlambatan ekonomi yang lebih luas di kawasan Asia‑Pasifik jika ketegangan geopolitik dan tekanan biaya berlanjut.
PPI Korea Selatan meningkat, surplus dagang Jepang menguat. Harga produsen Korea Selatan melonjak 4,1% YoY pada Maret 2026, tertinggi dalam tiga tahun, mencerminkan meningkatnya tekanan inflasi di sektor industri dengan dorongan yang bergeser dari pangan ke energi dan industri kimia. Sementara itu di Jepang, surplus perdagangan naik menjadi JPY667 miliar, didorong lonjakan ekspor 11,7% YoY ke rekor tertinggi seiring tingginya demand China dan ASEAN.
Yield Jepang turun, pasar cermati arah kebijakan BOJ. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,38%, melanjutkan pelemahan dua sesi beruntun di tengah ketidakpastian arah kebijakan Bank of Japan. Pasar menilai BOJ kemungkinan menahan suku bunga bulan ini sambil mengkaji dampak konflik Timur Tengah, meski tetap membuka peluang normalisasi lanjutan paling cepat Juni, dengan prospek inflasi yang berpotensi direvisi naik dan pertumbuhan diturunkan akibat kenaikan biaya energi.
