Terakhir diperbarui: 26-07-2026, 15:13
Americas
Pasar menantikan kesaksian Ketua The Fed dan data inflasi AS untuk petunjuk arah suku bunga. Pelaku pasar akan mencermati kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres, yang berpotensi memberikan rincian lebih lanjut mengenai evaluasi dan kemungkinan perubahan kerangka kebijakan moneter yang tengah dikaji melalui sejumlah satuan tugas internal The Fed. Selain itu, rilis data inflasi AS bulan Juni akan menjadi fokus utama untuk menilai sejauh mana penurunan harga minyak sebelumnya telah diteruskan ke konsumen dan bagaimana implikasinya terhadap prospek suku bunga The Fed ke depan.
Harga minyak naik akibat peningkatan eskalasi. Crude oil melonjak lebih dari 3% setelah kembali meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta ancaman gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, yang mendorong pasar kembali mencermati risiko inflasi global dan stabilitas pasokan minyak dunia. Di sisi lain, harga emas turun di bawah USD4.100 per ons karena kenaikan harga energi meningkatkan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, dengan investor kini menantikan data inflasi AS dan arah kebijakan The Fed.
Yield UST turun tipis meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih bertahan. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,54% seiring meredanya harga minyak dan berlanjutnya negosiasi antara AS dan Iran yang membantu mengurangi kekhawatiran inflasi jangka pendek. Namun, pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026, didukung pandangan bahwa tekanan inflasi, termasuk yang berasal dari permintaan terkait AI, tetap perlu diwaspadai.
Europe
Inflasi Jerman dan Prancis melandai, namun risiko inflasi kawasan Eropa masih membayangi. Inflasi tahunan Jerman turun menjadi 2,3% pada Juni 2026 dari 2,6% pada Mei, sementara inflasi Prancis melandai ke 1,8% dari 2,4%, terutama didorong oleh perlambatan harga energi dan melemahnya tekanan harga barang. Meski tren disinflasi masih berlanjut, kenaikan harga minyak akibat konflik AS–Iran mendorong pasar kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan ECB, karena risiko inflasi energi berpotensi menghambat penurunan inflasi di kawasan Euro.
Yield obligasi Eropa turun tipis seiring meredanya harga minyak. Yield Bund Jerman tenor 10 tahun turun ke sekitar 3,03% dan gilt Inggris ke 4,89% setelah harga minyak terkoreksi menyusul berlanjutnya negosiasi AS–Iran, sehingga mengurangi sebagian kekhawatiran inflasi jangka pendek. Meski demikian, yield masih mencatat kenaikan mingguan yang signifikan karena pasar tetap memperkirakan kenaikan suku bunga lanjutan oleh ECB dan BoE, didukung risiko inflasi energi yang masih tinggi serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan fiskal di sejumlah negara Eropa.
Asia
Inflasi India meningkat, sementara yen Jepang. Inflasi India naik menjadi 3,9% YoY pada Mei 2026, tertinggi sejak awal 2025, terutama didorong kenaikan harga pangan akibat meningkatnya biaya energi dan pupuk yang dipicu konflik Timur Tengah. Di sisi lain, yen Jepang menguat mendekati 161 per USD setelah pemerintah mendorong dana pensiun domestik untuk meningkatkan investasi pada aset keuangan Jepang, serta didukung pelemahan harga minyak yang mengurangi tekanan terhadap perekonomian Jepang yang bergantung pada impor energi.
Yield obligasi Jepang turun, sementara Australia tetap tertekan oleh risiko inflasi energi. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,77% setelah pemerintah mendorong dana pensiun domestik meningkatkan kepemilikan aset keuangan Jepang dan meredanya harga minyak membantu mengurangi tekanan terhadap ekonomi yang bergantung pada impor energi. Sementara itu, yield Australia tenor 10 tahun bertahan di atas 4,8% karena pasar masih mencermati dampak ketegangan di Timur Tengah terhadap inflasi, meski ekspektasi suku bunga RBA untuk pertemuan Agustus tetap cenderung tidak berubah.
