Terakhir diperbarui: 17-04-2026, 15:43
Americas
Inflasi AS melonjak ditembus energi, sentimen konsumen jatuh ke level historis. Inflasi AS naik tajam ke 3,3% YoY pada Maret 2026, tertinggi sejak Mei 2024, didorong lonjakan harga energi 12,5% terutama bensin yang melonjak 18,9%, sementara inflasi inti hanya naik terbatas ke 2,6% YoY. Secara bulanan, CPI melonjak 0,9% MoM—kenaikan terbesar sejak 2022—meski tekanan harga di luar energi relatif terkendali. Di sisi lain, sentimen konsumen anjlok ke rekor terendah 47,6 pada awal April, mencerminkan kekhawatiran luas atas melonjaknya harga dan turunnya daya beli, dengan ekspektasi inflasi setahun ke depan melonjak ke 4,8% dan ekspektasi jangka panjang naik ke 3,4%.
Harga WTI melonjak tajam setelah AS umumkan blokade Selat Hormuz. Harga minyak WTI melonjak hingga 9,3% dan menembus USD105 per barel, memulihkan pelemahan pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran menyusul gagalnya negosiasi akhir pekan. Selat Hormuz yang secara efektif telah tertutup sejak konflik dimulai kembali menjadi sumber kekhawatiran pasokan, sehingga memicu kembali risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan dunia.
Yield Treasury AS naik tipis, tekanan inflasi tetap jadi fokus pasar. Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik ke sekitar 4,31%, menjauh tipis dari level terendah tiga pekan, seiring investor mencermati perkembangan diplomasi Timur Tengah dan data ekonomi terbaru. Harapan de‑eskalasi muncul setelah rencana pertemuan AS–Iran di Pakistan serta kesediaan Israel membuka dialog dengan Lebanon, meski dampak konflik sudah tercermin pada lonjakan inflasi AS. CPI Maret naik 0,9% MoM dan 3,3% YoY—tertinggi sejak 2024—didominasi kenaikan harga energi, sementara inflasi inti relatif moderat di 2,6%.
Europe
Inflasi Jerman melonjak dipicu kenaikan tajam harga energi. Laju inflasi Jerman meningkat ke 2,7% YoY pada Maret 2026, tertinggi sejak awal 2024, seiring lonjakan harga energi 7,2% yang didorong kenaikan tajam bahan bakar dan minyak pemanas akibat tekanan pasar minyak global imbas konflik Timur Tengah. Inflasi barang ikut menguat, sementara inflasi jasa naik ke 3,2%, mencerminkan tekanan biaya yang masih luas. Di sisi lain, inflasi inti justru turun tipis ke 2,3%, menandakan tekanan harga non‑energi mulai mereda meski risiko inflasi energi tetap tinggi.
Yield Eropa tetap elevated dipicu risiko energi dan geopolitik. Imbal hasil obligasi utama Eropa dan Inggris bertahan dekat level tertinggi multi‑tahun di akhir pekan yang volatil, seiring harga minyak yang tinggi akibat blokade Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran inflasi. Pelaku pasar masih memproyeksikan kenaikan suku bunga lanjutan oleh ECB dan BOE hingga 2026, seiring tensi geopolitik Timur Tengah yang mendorong inflasi energi.
Asia
Penjualan kendaraan China melemah, ekspor tetap melonjak. Penjualan kendaraan di China turun 0,6% YoY menjadi 2,90 juta unit pada Maret 2026, membaik dari kontraksi tajam Februari yang dipengaruhi libur Imlek, namun secara kumulatif kuartal I penjualan masih turun 5,6% YoY. Pelemahan domestik kontras dengan ekspor kendaraan yang melonjak 72,7% YoY ke 875 ribu unit, sementara penjualan kendaraan energi baru (NEV) naik tipis 1,2% YoY dan mencakup 43,2% dari total penjualan mobil.
Yield Jepang naik tipis, Australia tertahan di tengah risiko geopolitik. Yield obligasi pemerintah Jepang 10 tahun kembali menguat ke sekitar 2,4% seiring meredupnya optimisme atas gencatan senjata AS–Iran dan kekhawatiran inflasi energi, dengan pasar tetap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ bulan ini. Di Australia, yield 10 tahun bertahan di kisaran 4,9% setelah penurunan sebelumnya, sementara pasar masih mencermati risiko inflasi dari konflik Timur Tengah dan peluang pengetatan lanjutan oleh RBA.
