Terakhir diperbarui: 08-03-2026, 06:27
Americas
Pemerintah AS siapkan berbagai opsi untuk redam lonjakan harga energi. Pemerintahan Trump mempertimbangkan sejumlah langkah untuk menahan kenaikan harga minyak dan bensin—mulai dari pengawalan kapal di Selat Hormuz, jaminan asuransi, hingga kemungkinan melepas cadangan SPR dan relaksasi aturan campuran bahan bakar. Pernyataan ini membuat WTI terkoreksi hampir 2% ke sekitar USD79,5 per barel setelah sebelumnya melonjak hampir 20% dalam sepekan akibat serangan beruntun ke infrastruktur energi di Teluk dan terhentinya arus tanker.
UST 10Y naik karena inflasi energi menurunkan peluang Fed untuk pangkas bunga. Yield Treasury AS tenor 10 tahun melanjutkan kenaikan empat hari berturut‑turut hingga 4,14%, level tertinggi dalam sebulan, di tengah memanasnya konflik AS–Iran yang membuat harga energi kembali melonjak dan menambah kekhawatiran inflasi. Data ekonomi AS yang solid—klaim pengangguran di bawah ekspektasi, produktivitas lebih kuat, pemutusan hubungan kerja menurun, serta ISM Services PMI yang tumbuh tercepat sejak 2022—mendorong pasar memangkas proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi hanya satu kali tahun ini. DXY menguat ke 99,1 karena tingginya permintaan aset aman dan persepsi ketahanan energi AS, sementara eskalasi konflik yang memasuki hari keenam terus menambah tekanan pasar.
Europe
ECB waspadai risiko inflasi energi. Risalah pertemuan ECB awal Februari menunjukkan bank sentral awalnya memperkirakan inflasi akan turun di bawah target 2%, namun lonjakan harga energi lebih dari 20% akibat konflik Timur Tengah kini meningkatkan risiko inflasi jangka pendek. ECB menilai kebijakan saat ini masih sesuai, tetapi siap menyesuaikan jika tekanan harga membesar, sementara pasar mulai memperhitungkan peluang kecil kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Yield obligasi Eropa naik karena risiko inflasi energi dan eskalasi konflik Timur Tengah. Yield Bund Jerman 10 tahun naik ke 2,8% (tertinggi sejak 11 Februari) bersama BTP Italia menuju 3,5% dan OAT Prancis di atas 3,4%, seiring lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik yang memasuki hari keenam dan berbalik memicu kekhawatiran inflasi, apalagi inflasi Zona Euro Februari tercatat 1,9% YoY dengan inti 2,4% di atas perkiraan. Pasar kini menilai peluang sekitar 40% untuk kenaikan suku bunga ECB pada akhir tahun dan sekitar 60% hingga Juni 2027, menandakan repricing dari ekspektasi pelonggaran ke sikap yang lebih hawkish.
Asia
China tetapkan target pertumbuhan terendah sejak 1991, sementara surplus dagang Australia menyempit. China menetapkan target pertumbuhan 2026 di kisaran 4,5–5%, level paling rendah sejak 1991, menandakan pergeseran menuju model pertumbuhan yang lebih terukur di tengah tekanan struktural dan lemahnya permintaan domestik. Pemerintah mempertahankan defisit fiskal di sekitar 4% PDB serta menargetkan inflasi 2%. Di Australia, surplus perdagangan barang menyusut ke AUD2,63 miliar pada Januari dari AUD3,37 miliar karena ekspor turun 0,9% MoM serta impor naik 0,8%, mencerminkan permintaan global yang lebih lemah dan meningkatnya kebutuhan restocking di dalam negeri.
Yield obligasi Jepang dan Tiongkok bergerak berlawanan di tengah tensi global. Yield JGB 10 tahun naik mendekati 2,15%, sekaligus mengikuti kenaikan yield global akibat lonjakan harga energi imbas eskalasi konflik Timur Tengah. Gubernur Ueda menilai risiko geopolitik dapat memicu penundaan pengetatan, sementara beberapa pejabat membuka ruang normalisasi bertahap bila inflasi dasar menguat. Sebaliknya, yield CGB Tiongkok 10 tahun naik tipis ke sekitar 1,79% saat pasar mencerna target pertumbuhan baru 4,5%–5% yang lebih rendah yang menandakan Beijing siap menerima laju ekspansi lebih moderat sambil mendorong transformasi struktural.
