Terakhir diperbarui: 06-06-2026, 03:17
Americas
ISM services dan pasar tenaga kerja AS tetap kuat, perkuat bias hawkish The Fed. Aktivitas sektor jasa AS meningkat ke 54,5 pada Mei 2026 didorong kenaikan aktivitas bisnis dan pesanan baru, sementara tekanan harga kembali menguat terutama dari energi, mencerminkan inflasi yang masih persisten. Di saat yang sama, penambahan tenaga kerja tetap solid dengan pertumbuhan pekerjaan yang broad-based, menegaskan ketahanan ekonomi AS dan memperkuat ekspektasi hawkish lebih lama.
OECD pangkas proyeksi global, risiko inflasi dan perlambatan meningkat. OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 2,8% dari sebelumnya 3,4%, mencerminkan dampak berkelanjutan konflik Timur Tengah terhadap rantai pasok, harga energi, dan kepercayaan ekonomi. Kenaikan harga energi dan kondisi keuangan yang lebih ketat diperkirakan mendorong inflasi lebih tinggi, sekaligus menekan pertumbuhan di berbagai kawasan, sehingga memperkuat risiko kombinasi “low growth–high inflation” yang menjadi tantangan utama kebijakan global ke depan.
Yield UST naik seiring data tenaga kerja kuat dan risiko inflasi. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,49% didorong data tenaga kerja yang solid, termasuk kenaikan payroll ADP dan JOLTS, yang memperkuat ekspektasi kebijakan moneter tetap ketat. Kenaikan yield juga didukung oleh lonjakan harga minyak akibat eskalasi geopolitik, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong pasar untuk semakin memprice‑in peluang kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun.
Europe
PMI Zona Euro kontraksi, sinyal pertumbuhan melemah di tengah tekanan inflasi. Aktivitas sektor swasta Zona Euro kembali terkontraksi dengan Composite PMI di 48,5 pada Mei 2026, mencerminkan pelemahan permintaan terutama dari pasar ekspor serta tekanan biaya yang tetap tinggi. Sektor jasa menjadi penekan utama dengan penurunan aktivitas dan mulai terlihatnya pelemahan pasar tenaga kerja, sementara manufaktur masih ekspansif namun melambat, menunjukkan ekonomi berada dalam fase “low growth–high inflation” yang menyulitkan arah kebijakan ECB ke depan.
Yield Eropa turun tipis di tengah wait-and-see dan risiko inflasi. Yield Gilt Inggris melemah ke sekitar 4,85% seiring penurunan harga minyak dan sikap hati-hati investor terhadap perkembangan geopolitik, meski ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England masih terjaga. Sementara itu, yield Bund Jerman stabil di kisaran 2,95% didukung meredanya tekanan energi, namun inflasi Zona Euro yang meningkat tetap menjaga ekspektasi pengetatan ECB ke depan.
Asia
Likuiditas China memadai, PBoC tahan injeksi jangka pendek. Keputusan PBoC untuk tidak melakukan operasi reverse repo menandakan kondisi likuiditas perbankan yang masih cukup longgar, sehingga tidak memerlukan tambahan injeksi dana dalam jangka pendek. Langkah ini mencerminkan stabilitas sistem keuangan domestik, meski tetap berada dalam konteks perlambatan ekonomi yang lebih luas dan kebutuhan kebijakan yang tetap fleksibel ke depan.
Yield obligasi Asia mixed, dipengaruhi faktor domestik dan global. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik mendekati 2,6% setelah permintaan kuat pada lelang sebelumnya, meski ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ dan tekanan inflasi dari energi tetap menjadi faktor penahan. Sementara itu, yield China naik tipis ke sekitar 1,71% seiring data PMI yang mixed mencerminkan pemulihan tidak merata, sedangkan yield Australia turun ke bawah 4,9% didorong data pertumbuhan yang lebih lemah sehingga menurunkan ekspektasi pengetatan RBA.
