WAMENDAG APRESIASI INOVASI UMKM KERAMIK LOKAL TEMBUS PASAR EKSPOR
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
07 September 2026
24954288
IQPlus, (7/9) - Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri melakukan kunjungan kerja ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produsen alat makan keramik berorientasi ekspor, Lumosh Living di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (6/9). Kunjungan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan nyata Kementerian Perdagangan terhadap optimalisasi potensi UMKM lokal agar makin berdaya saing di pasar global.
Dalam kunjungan tersebut, Wamendag Roro menyatakan bahwa produk keramik memiliki potensi ekspor yang menjanjikan dan peluang ini perlu diusahakan bersama. "Kami memiliki perwadag yang tersebar di banyak negara dan mereka berfungsi sebagai mediator untuk mempertemukan UMKM dengan buyer yang sesuai. Oleh karena itu, kami mendorong UMKM terus proaktif memanfaatkan berbagai business matching atau business pitching yang difasilitasi oleh perwadag," jelas Wamendag Roro.
Adaptasi ekonomi sirkular dan nilai pemberdayaan masyarakat yang diterapkan oleh Lumosh Living juga menjadi perhatian tersendiri. Kedua hal tersebut diyakini Wamendag Roro sebagai nilai unggul dan daya tarik yang diminati oleh pasar internasional.
"Lumosh Living layak menjadi contoh inspiratif bagaimana suatu UMKM dapat sukses ketika mereka tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga mengaplikasikan metode pemasaran yang lebih personal serta mengusung nilai-nilai sosial yang mendalam," ujar Wamendag Roro.
Lebih lanjut, Wamendag Roro juga mengapresiasi semangat, keuletan, dan kegigihan para pendirinya dalam menembus dan memperluas pangsa pasar internasional. Dari segi desain produk, Lumosh Living dinilai sangat kreatif dalam merespons preferensi dan selera pasar, misalnya melalui produk mangkok matcha yang dibuat unik satu sama lain dan sukses meraih penjualan tinggi secara daring memanfaatkan tren teh hijau yang digandrungi generasi muda.
Lumosh Living yang berdiri sejak tahun 2016 ini secara konsisten mengusung konsep ekonomi sirkular dalam rantai produksinya. Salah satu wujud nyatanya yaitu lini produk reclay tableware yang dibuat dari pengolahan ulang pecahan keramik retur konsumen dan produk retak atau gagal produksi saat pemanasan. Alih-alih menjadi limbah, puing-puing keramik tersebut bertransformasi menjadi tatakan, gelas, mangkok, dan piring yang elegan serta tahan lama.
Co-founder Lumosh Living, Raymon Tjiadi menuturkan, reclay tableware mereka memanfaatkan 40 persen limbah keramik dan 10 persen pasir besi, sehingga mampu mengurangi penggunaan bahan baku murni hingga 50 persen.
"Inovasi sirkular ini juga terbukti meningkatkan kepadatan dan ketahanan produk hingga 20 persen, mengurangi emisi karbon sebesar 30 persen, serta dipastikan bebas timbal (lead) dan kadmium (cadmium-free) dengan tingkat kualitas 99 persen setara dengan produk keramik baru. Konsep ini menjadi pembeda Lumosh dari keramik yang diproduksi secara massal," tandas Raymon. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
