BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    SOECHI LINES RAIH EBITDA AS$62,9 JUTA DI TAHUN 2025

    Terbit Pada

    26 February 2026

    Saham Terkait

    Terakhir diperbarui: 25-02-2026, 09:20:am

    05627574

    IQPlus, (26/2) - PT Soechi Lines Tbk (Kode Saham BEI: SOCI) selanjutnya disebut melaporkan EBITDA (Earnings Before Interest, Tax, Depreciation, & Amortization) atau Laba Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, & Amortisasi senilai AS$62,9 juta selama tahun buku 2025.

    EBITDA tersebut tumbuh 2,6% dibandingkan dengan EBITDA pada tahun buku 2024. Pertumbuhan EBITDA Perseroan pada tahun buku 2025 ditopang oleh cukup solidnya kinerja marjin profitabilitas. Perseroan mencatat marjin EBITDA sebesar 40,5% pada tahun buku 2025, dibandingkan dengan marjin EBITDA sebesar 37,0% pada tahun buku 2024.

    Dari segi pendapatan, Perseroan meraih pendapatan neto konsolidasian senilai AS$155,3 juta selama tahun 2025. Pendapatan neto tersebut terdiri dari pendapatan segmen pelayaran senilai AS$135,5 juta, pendapatan segmen galangan kapal senilai AS$19,7 juta, dan pendapatan lain-lain senilai AS$44,8 ribu.

    Pada pendapatan segmen pelayaran, Perseroan mencatat pendapatan time charter senilai AS$115,1 juta dan pendapatan spot charter senilai AS$20,4 juta pada 2025. Secara keseluruhan, industri penyewaan kapal tanker masih sangat baik sepanjang tahun buku 2025, baik untuk permintaan penyewaan di pasar Indonesia maupun untuk pelayaran internasional. Perseroan mencatat utilisasi rata-rata armada kapal pada tingkat kurang lebih 86% pada 2025.

    Pada pendapatan segmen galangan kapal, Perseroan tercatat menangani sebanyak 37 unit kapal yang utamanya merupakan pekerjaan dry docking serta reparasi kapal. Perseroan melihat peluang pasar yang masih sangat baik dari segmen pekerjaan perbaikan & perawatan kapal pada 2025, memperhatikan bahwa agar dapat layak operasi di perairan, setiap kapal perlu melakukan perawatan secara rutin di galangan kapal.

    Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai AS$7,6 juta pada tahun buku 2025. Capaian kinerja laba tahun berjalan Perseroan tersebut dipengaruhi oleh adanya rugi atas pelepasan aset tetap - neto senilai AS$7,6 juta, berkaitan dengan pelepasan sebanyak 2 unit kapal yang dilakukan oleh Perseroan pada tahun 2025. Rugi atas pelepasan kedua kapal merupakan rugi yang bersifat nonkas (non-cash item).

    Kedua kapal yang dilepas Perseroan tersebut telah memberikan kontribusi pendapatan selama hampir 15 tahun untuk Perseroan. Keduanya masing-masing telah berusia 25 tahun dan 30 tahun.

    Perseroan memiliki kebijakan untuk melepas kapal yang usianya telah tinggi dan tidak lagi efisien dalam kegiatan operasioanalnya. Perseroan akan melihat peluang untuk mengakuisisi kapal dengan usia yang lebih rendah.

    Akuisisi 2 Kapal Tanker Pada 2025

    Sepanjang tahun buku 2025, Perseroan berhasil merealisasikan pengakuisisian sebanyak 2 unit kapal tanker. Pada kuartal I 2025 Perseroan mengakuisisi 1 unit kapal tanker Liquefied Natural Gas (LNG) yang memiliki kapasitas sebesar kurang lebih 74.000 Deadweight Tonnage (DWT). Kapal tanker LNG tersebut telah memperoleh kontrak penyewaan dari pelanggan.

    Pada kuartal III 2025, Perseroan kembali melakukan akuisisi atas 1 unit kapal tanker ukuran Medium Range (MR). Kapal tersebut merupakan tanker minyak yang memiliki kapasitas sebesar kurang lebih 45.000 DWT. Kapal tanker MR tersebut juga telah memperoleh kontrak penyewaan dari pelanggan.

    Perseroan melihat industri pelayaran tanker yang tetap prospektif dalam jangka panjang. Hal ini seiring dengan permintaan energi yang berkelanjutan di Indonesia. Sektor migas masih akan menjadi salah satu sumber utama pemenuhan permintaan energi di Indonesia ditengah proses produksi migas yang saat ini semakin menekankan pada produksi ramah lingkungan. Pada 2025, lifting minyak Indonesia dilaporkan mencapai 605 ribu barel per hari (bph), sementara lifting gas bumi dilaporkan mencapai 951 ribu bph.

    Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk mendorong produksi minyak bumi, diantaranya melalui inisiatif reaktivasi sekitar 5 ribu sumur tua. Pemerintah Indonesia juga menargetkan untuk menaikkan volum produksi gas bumi dari produksi saat ini sekitar 5-6 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) menjadi 12 BSCFD pada tahun 2030. (end)