BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

LOUD BUDGETING DAN SOFT SAVING DORONG ANAK MUDA LEBIH BIJAK KELOLA UANG

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

10 August 2026

22151280

IQPlus, (10/8) - Jika memperhatikan linimasa media sosial belakangan ini, alih-alih memamerkan barang mewah atau liburan ke luar negeri, banyak anak muda justru dengan bangga mengunggah tangkapan layar rekening tabungan, target dana darurat, atau alasan menolak ajakan nongkrong di akhir pekan.

Fenomena ini dikenal sebagai loud budgeting dan soft saving -dua istilah yang kian ramai dibicarakan di kalangan pekerja muda dan mahasiswa di Indonesia. Kedua tren ini lahir dari kegelisahan yang sama: biaya hidup yang makin mahal dan ketidakpastian ekonomi, di mana generasi muda tetap ingin menikmati hari ini tanpa mengorbankan hari esok.

Di balik sekadar tren media sosial, ada pergeseran perilaku finansial yang serius yang mendorong lebih banyak anak muda mulai berinvestasi. Plt. Direktur Utama PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), Danica Adhitama, mengatakan bahwa pendekatan ini mengubah topik uang yang dulu dianggap tabu menjadi bahan obrolan yang wajar, bahkan keren.

Secara psikologis, cara ini menciptakan dorongan sosial. Begitu seseorang menyuarakan tujuan finansialnya, ia cenderung lebih konsisten menyisihkan uang sekaligus lebih tahan terhadap tekanan FOMO (Fear of Missing Out) yang sering memaksa belanja di luar kemampuan.

Fleksibilitas dan Keseimbangan Emosional

"Jika loud budgeting soal keberanian bicara, soft saving soal fleksibilitas bertindak. Pendekatan menabung ini jauh lebih longgar dan manusiawi dibanding gaya menabung agresif ala gerakan FIRE (Financial Independence, Retire Early). Alih-alih memaksakan diri menyisihkan persentase tetap setiap bulan demi target pensiun dini, penganut soft saving menabung sesuai kemampuan sambil tetap mengalokasikan sebagian uang untuk self-reward. Soft saving bukan berarti berhenti menabung, melainkan mengubah cara pandang bahwa menabung tidak harus kaku, menyakitkan, atau membuat stres," jelas Danica.

Kedua kebiasaan ini saling melengkapi. Loud budgeting menyediakan struktur sosial berupa keberanian menolak pengeluaran berlebih, sedangkan soft saving memberikan ruang emosional agar tidak membebani diri sendiri.

Faktor Pendorong dan Peran Teknologi Finansial

Beberapa faktor yang membuat tren ini tumbuh subur antara lain:

1. Tekanan biaya hidup: Kenaikan harga kebutuhan pokok, sewa tempat tinggal, dan cicilan yang menggerus porsi tabungan.

2. Skeptisisme terhadap pensiun tradisional: Banyak anak muda ragu pada konsep kepemilikan rumah atau rencana kaku 20-30 tahun ke depan, sehingga memilih strategi yang lebih adaptif.

Peningkatan akses literasi dan inklusi keuangan: Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK menunjukkan inklusi keuangan usia 18-25 tahun mencapai 89,96%, namun tingkat literasi baru 73,22%. Gap ini menandakan banyak anak muda sudah memiliki akses ke produk keuangan, tetapi masih butuh bimbingan pengelolaan secara optimal.

Di titik inilah loud budgeting dan soft saving berperan sebagai jembatan informal. Kemudahan teknologi finansial turut mempermudah proses ini investasi yang dulunya identik dengan prosedur rumit dan modal besar, kini bisa diakses hanya dalam hitungan menit lewat aplikasi ponsel.

Reksa Dana sebagai Pintu Masuk Pemula

"Di antara berbagai instrumen investasi, reksa dana kerap disebut sebagai pintu masuk paling ramah bagi pemula karena karakteristiknya yang sejalan dengan filosofi soft saving. Nominalnya terjangkau bahkan mulai dari puluhan ribu rupiah serta dikelola oleh manajer investasi profesional, sehingga investor tidak perlu memantau pasar setiap hari. Sifatnya juga relatif fleksibel dan likuid," tambah Danica.

Pada akhirnya, loud budgeting dan soft saving bukanlah sekadar gimmick media sosial. Ketika dipadukan dengan langkah konkret seperti investasi konsisten, anak muda tidak sekadar mengikuti tren, tetapi sedang membangun fondasi finansial yang kokoh untuk masa depan. (end)