KEMENPERIN BIDIK PRODUK UNGGULAN AGRO PENUHI POTENSIAL PASAR GLOBAL
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
10 August 2026
22157914
IQPlus, (10/8) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik penguatan produk artisan agro unggulan nasional untuk memenuhi potensi pasar global yang terus berkembang, khususnya pada sektor makanan dan minuman.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza dalam pembukaan Pameran dan Business Matching Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin menyampaikan sejumlah sektor yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, antara lain produk olahan kakao, teh, kopi, hortikultura, susu, cerutu, hingga produk fermentasi berbasis lokal.
Pada sektor kakao, Indonesia saat ini menjadi produsen produk olahan kakao terbesar keempat di dunia serta produsen biji kakao terbesar ketujuh.
Sementara itu, industri kopi nasional juga memiliki posisi strategis dengan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia, dengan ekspor kopi olahan tercatat mencapai 692 juta dolar AS atau meningkat 4,36 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk industri teh, Wamenperin menjelaskan pasar ekstrak teh global meningkat dari 3,6 juta dolar AS pada 2019 menjadi 5,6 juta dolar AS pada 2025. Selain itu, pasar suplemen teh hijau diperkirakan mencapai 909,9 juta dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,33 miliar dolar AS pada 2033.
Di sektor hortikultura, Indonesia juga memiliki potensi besar dengan dukungan produksi buah dan sayuran nasional. Nilai ekspor produk hortikultura pada 2025 mencapai 544,8 juta dolar AS, dengan komoditas nanas kaleng sebagai salah satu kontributor utama.
Selain itu, industri pengolahan susu juga dinilai memiliki peluang untuk berkembang, terutama pada produk bernilai tambah seperti keju dan gelato yang semakin diminati seiring pertumbuhan industri kuliner, hotel, restoran, dan kafe.
Sementara itu, industri hasil tembakau (IHT) tetap menjadi salah satu sektor manufaktur strategis berbasis sumber daya lokal. Menurut dia, kinerja ekspor IHT yang terus tumbuh menjadikan Indonesia sebagai eksportir IHT terbesar keenam di dunia.
Faisol juga menyoroti potensi produk fermentasi berbasis lokal yang masih perlu dikembangkan menjadi ekosistem industri nasional. Berdasarkan Fortune Business Insights, pasar pangan fermentasi global pada 2025 mencapai 788,33 juta dolar AS dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,24 miliar dolar AS pada 2034.
"Oleh karena itu, produk olahan fermentasi berbasis lokal berpotensi untuk dikembangkan sebagai sub sektor industri yang mampu menciptakan nilai tambah dan menghasilkan produk yang berdaya saing," katanya. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
