JAWAB PERTANYAAN REGULATOR, INI PENJELASAN MANAJEMEN MEJA
Share via
Terbit Pada
19 February 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 13-02-2026, 09:30:am
04930758
IQPlus, (19/2) - Emiten PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) tengah mematangkan langkah ekspansi ke sektor pertambangan melalui rencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP). Nilai transaksi ini diperkirakan mencapai Rp1,6 triliun, setara sekitar 15 kali lipat dari total aset perseroan per Juni 2025 yang tercatat sebesar Rp107,08 miliar.
Dalam surat tanggapan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 13 Februari 2026, manajemen MEJA memaparkan latar belakang serta proyeksi atas rencana aksi korporasi tersebut.
Nilai akuisisi sebesar Rp1,6 triliun disebut merujuk pada kesepakatan awal yang mengacu pada transaksi serupa dengan pihak lain sebelumnya. Meski jauh lebih besar dibandingkan total aset perseroan saat ini, manajemen menegaskan bahwa nilai tersebut masih berpotensi berubah, mengikuti hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang tengah dalam proses penunjukan.
Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto S, dalam keterbukaan informasi menyampaikan bahwa perseroan meyakini akuisisi 45% saham TCP akan memberikan manfaat valuasi yang konkret bagi perusahaan dan pemegang saham.
PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) disebut memiliki potensi signifikan di sektor batu bara dengan aset berskala besar di Sumatera Selatan. Perusahaan ini mengantongi konsesi seluas sekitar 11.640 hektare dengan estimasi mineable coal resources mencapai kurang lebih 693,7 juta ton berdasarkan laporan konsultan independen Faan Grobelaar & Associates dari Afrika Selatan.
TCP ditargetkan mulai berproduksi pada 2026 dan telah memiliki pembeli siaga (standby buyer), yakni Argo Energy Pte. Ltd. yang merupakan bagian dari Banpu Group, dengan kontrak selama satu tahun.
MEJA menjelaskan, transaksi akan dilakukan melalui mekanisme share swap inbreng saham secara bertahap, disesuaikan dengan perkembangan produksi TCP. Tahap pertama akuisisi ditargetkan terealisasi pada kuartal III 2026.
Menanggapi potensi reverse acquisition atau backdoor listing, manajemen menegaskan bahwa transaksi ini tidak akan mengubah pengendali perusahaan. Pemegang saham pengendali MEJA disebut tetap memegang kendali setelah proses akuisisi rampung.
Dalam proses valuasi, perseroan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) yang dinilai lebih konservatif karena bertumpu pada proyeksi kinerja operasional dan tidak terpengaruh volatilitas pasar saham. Proyeksi tersebut mengasumsikan harga jual batu bara sebesar USD 26 per ton, lebih rendah dari kisaran harga yang diinformasikan pihak TCP, yakni antara USD 28 hingga USD 32 per ton.
Langkah ini mencerminkan transformasi strategis MEJA, dari skala bisnis saat ini menuju kepemilikan aset sumber daya alam dalam waktu 12 bulan ke depan. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
