HARGA MINYAK NAIK 4 PERSEN LEBIH PADA RABU
Share via
Kategori
Komoditi
Terbit Pada
19 February 2026
04925302
IQPlus, (19/2) - Harga minyak ditutup naik lebih dari 4 persen pada hari Rabu karena para pedagang memperhitungkan potensi gangguan pasokan di tengah kekhawatiran konflik antara AS dan Iran, dan setelah pembicaraan antara Ukraina dan Rusia di Jenewa berakhir tanpa terobosan.
Selain itu, harga minyak pemanas berjangka AS melonjak sekitar 5 persen.
Harga minyak mentah Brent ditutup naik US$2,93, atau 4,35 persen, menjadi US$70,35 per barel.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik US$2,86, atau 4,59 persen, menjadi US$65,19. Kedua kontrak tersebut mencatat penutupan tertinggi sejak 30 Januari, pulih sehari setelah mencapai titik terendah dalam dua minggu.
Kedua kontrak tersebut menguat menjelang akhir sesi, naik lebih dari US$3 menjelang penutupan perdagangan karena laporan media yang menyebutkan Israel telah meningkatkan tingkat kewaspadaannya menyusul meningkatnya indikasi kemungkinan serangan terhadap Iran oleh AS dan Israel, menurut Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
"Pergerakan besar harga minyak hari ini semata-mata didorong oleh geopolitik, harga terus bereaksi terhadap berita utama terkait pertemuan antara AS dan Iran, serta Rusia dan Ukraina," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates.
"Pasar minyak memperhitungkan risiko tambahan gangguan pasokan," tambahnya.
"Iran sekarang mengetahui taktik negosiasi (Presiden AS Donald) Trump. Mereka juga tahu bahwa gangguan ekspor minyak dari Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak hingga US$150 per barel adalah hal terakhir yang diinginkan Trump," kata kepala analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, dalam sebuah catatan. "Iran punya waktu untuk bernegosiasi dengan tenang."
Konsultan politik Eurasia Group mengatakan dalam catatan kepada kliennya pada hari Selasa bahwa mereka memperkirakan ada kemungkinan 65 persen serangan militer AS terhadap Iran pada akhir April.
"Semua orang memantau jumlah peralatan militer yang membanjiri kawasan itu dari AS, yang mengindikasikan bahwa permusuhan akan segera terjadi," kata John Kilduff, mitra di Again Capital. (end/Reuters)
Riset Terkait
Berita Terkait
