GAPKI : PERLU PENGUATAN INDUSTRI SAWIT YANG PRODUKTIF DAN BERKELANJUTAN
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
08 October 2026
28033008
IQPlus, (8/10) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan dengan keterbatasan ekspansi lahan maka penguatan produktivitas, kualitas sumber daya manusia (SDM), inovasi teknologi, hingga integrasi kebijakan dari hulu hingga hilir menjadi penting untuk dijalankan.
Menurut Ketua Bidang Komunikasi Gapki Bandung Sahari langkah itu diperlukan agar industri sawit tanah air tetap mampu memenuhi kebutuhan domestik dan global sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian negara.
"Industri perkebunan kelapa sawit memiliki posisi yang strategis untuk mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan di Tanah Air. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas pada 2045," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Posisi industri kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia sebetulnya cukup signifikan, tambahnya, beberapa produk turunan industri ini digunakan untuk industri makanan hingga energi.
Selain itu industri ini juga memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pemenuhan pasokan energi global. Dari pasokan minyak kelapa sawit global yang mencapai 85 juta metric ton (MT), Indonesia berkontribusi sekitar 49 juta MT atau sekitar 58% dari total pasokan minyak kelapa sawit global.
"Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi yang signifikan dalam keseimbangan pasokan dan permintaan energi global, mengingat 22 persen dari total pasokan minyak nabati dunia berasal dari Indonesia," katanya.
Bandung menyatakan untuk memenuhi permintaan di masa depan, diperlukan fokus terhadap aspek keberlanjutan maupun produktivitas. Mengingat peran penting Indonesia, keberlanjutan terkait penggunaan atau perluasan lahan dan produktivitas harus menjadi perhatian utama.
Dia menilai seiring dengan pertumbuhan populasi di Indonesia dan dalam skenario produksi minyak kelapa sawit tidak bertumbuh secara signifikan, Indonesia akan mengalami defisit suplai sebesar 27 juta metrik ton (MT) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Sejak pemberlakuan moratorium atas ekspansi perkebunan kelapa sawit oleh sektor swasta, Gapki mencatat pertumbuhan ekspansi lahan telah menurun. Menurutnya, jika area tertanam tidak kunjung bertumbuh, CPO domestik harus memiliki yield sekitar 5 MT/ha per tahun untuk memenuhi kebutuhan.
Di tengah tantangan dan besarnya kebutuhan atas industri ini, Bandung menilai penting untuk meningkatkan produktivitas, konversi lahan yang terkontrol, dan pengembangan agrikultur maritim untuk memastikan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Dengan kata lain, pengendalian alih fungsi lahan secara ketat diperlukan agar area produktif tidak tergerus oleh alih fungsi non-pertanian.
Selain itu, ketersediaan pusat pendidikan dan inovasi teknologi pertanian juga dinilai menjadi fondasi strategis atas cita-cita mencapai Indonesia Emas 2045. Melalui adopsi teknologi tepat guna, efisiensi operasional dapat ditingkatkan secara signifikan.
"Integrasi kebijakan dari hulu ke hilir serta konektivitas antara sektor pertanian, industri, dan jasa juga diperlukan untuk menciptakan nilai tambah yang maksimal bagi perekonomian nasional," tambahnya.
Bandung juga menilai, dibutuhkan peningkatan kualitas petani dan sumber daya manusia pada bidang agrikultur, hingga peningkatan kapasitas institusi dan kewirausahaan petani dalam proses mendorong transformasi ekonomi yang berkelanjutan di sektor ini.
Selain itu peningkatan investasi dan infrastruktur yang mendukung bagi sektor agrikultur untuk mendorong pemanfaatan yang lebih maksimal dari sektor ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian dan investasi banyak diarahkan ke sektor hilir, tambahnya, namun, ada satu hal fundamental yang tidak boleh kita lupakan yakni pasokan. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
