EKONOM YAKINI INSENTIF EV MOMEN PERKUAT INDUSTRI BATERAI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
26 May 2026
14533385
IQPlus, (26/5) - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menilai kebijakan insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis nikel yang tengah disiapkan, menjadi momentum penting untuk memperkuat industri baterai nasional sekaligus memperdalam hilirisasi mineral.
Dia dalam keterangan di Jakarta, Selasa menyampaikan kebijakan tersebut menjadi instrumen penting untuk mengarahkan pengembangan industri kendaraan listrik nasional agar lebih terintegrasi dengan kekuatan sumber daya domestik.
"Kalau dilihat sekarang pemerintah lebih selektif. Untuk pemberian insentif pada kendaraan berbasis nikel saya kira bagus, karena kita punya produksi nikel sehingga bisa mendorong hilirisasi menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik nasional," kata Fahmi.
Menurut dia, kebijakan insentif yang membedakan kendaraan berbasis nikel dan non-nikel dinilai lebih tepat sasaran dibandingkan kebijakan sebelumnya, termasuk dengan mulai berkurangnya insentif terhadap kendaraan listrik impor utuh atau completely built up (CBU).
Menurut dia, relevansi kebijakan tersebut tercermin dari pasar kendaraan listrik Indonesia yang terus tumbuh pesat. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024 dan meningkat menjadi 114.413 unit sepanjang 2025.
Namun demikian, pertumbuhan pasar masih didominasi kendaraan listrik berbasis baterai lithium iron phosphate (LFP), yang teknologi dan bahan bakunya belum diproduksi di dalam negeri.
Berdasarkan data wholesales Gaikindo yang diolah, penjualan EV berbasis LFP mencapai 46.814 unit atau 83,3 persen dari total pasar pada 2024, sedangkan kendaraan berbasis nickel-manganese-cobalt (NMC) hanya mencapai 9.390 unit atau 16,7 persen.
Pada 2025, dominasi LFP mulai menurun meski masih menguasai pasar dengan 88.344 unit atau 77,2 persen. Sementara itu, kendaraan berbasis NMC meningkat menjadi 26.069 unit atau 22,8 persen.
Pertumbuhan kendaraan berbasis NMC tercatat melonjak 177,6 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan LFP yang tumbuh 88,7 persen. Kondisi tersebut menurut dia, menunjukkan pasar kendaraan listrik Indonesia masih memiliki ruang besar untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik.
Fahmi mengingatkan, apabila pertumbuhan pasar kendaraan listrik terus didominasi teknologi LFP, maka potensi nilai tambah industri berisiko lebih banyak mengalir ke luar negeri.
"Yang paling penting justru bagaimana ini menjadi kesempatan bagi Indonesia menciptakan ekosistem industrialisasi kendaraan listrik dari hulu sampai hilir," ujarnya.
Ia menilai pengembangan kendaraan listrik berbasis NMC menjadi strategis karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang dapat diintegrasikan langsung dengan industri baterai nasional. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
