BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

EKONOM NILAI RI HARUS FOKUS PADA RANTAI NILAI MINERAL KRISIS TERTENTU

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

10 August 2026

22147104

IQPlus, (10/8) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai Indonesia perlu fokus mengembangkan rantai nilai sejumlah mineral kritis tertentu untuk menangkap peluang pasar global, terutama dari Amerika Serikat (AS).

Menurut dia, kekuatan Indonesia berada pada sejumlah mineral seperti nikel, timah, dan tembaga yang terus berkembang, serta kobalt sebagai produk yang terkait dengan pengolahan nikel laterit. Mineral tersebut berperan dalam berbagai industri, mulai dari elektrifikasi, jaringan listrik, baterai, elektronik hingga manufaktur berteknologi tinggi.

"Indonesia tidak perlu mempunyai seluruh critical minerals dunia untuk menjadi relevan. Kita perlu fokus pada mineral yang memang menjadi kekuatan kita dan membuat posisi Indonesia pada rantai nilainya semakin sulit digantikan," ujar Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Ia memandang pendekatan tersebut lebih penting daripada sekadar memperbanyak jumlah mineral yang dikategorikan strategis.

"Memiliki mineral strategis tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi strategis. Yang menentukan adalah seberapa jauh mineral tersebut dapat diterjemahkan menjadi kapasitas industri, teknologi, lapangan pekerjaan dan bargaining power ekonomi," kata dia.

Menurut Fakhrul, penguatan rantai pasok mineral kritis oleh AS menunjukkan perubahan penting dalam kebijakan ekonomi global. Pemerintah AS menyiapkan sekitar 3 miliar dolar AS untuk membiayai proyek pertambangan dan pengolahan mineral kritis serta bahan baku baterai guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia sekaligus meningkatkan standar keberhasilan hilirisasi. Indonesia perlu bergerak dari sekadar memproses mineral sebelum ekspor menuju pengembangan rantai nilai yang lebih dalam, mulai dari pemurnian, material maju, komponen, manufaktur hingga teknologi.

Untuk itu, Fakhrul menilai terdapat sejumlah hal yang perlu diperkuat Indonesia.

Pertama, kepastian dan konsistensi regulasi perlu menjadi keunggulan kompetitif, terutama dalam perizinan, produksi dan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Menurut dia, investasi pertambangan dan industri turunannya membutuhkan kepastian kebijakan karena memiliki jangka waktu yang panjang.

"Indonesia sudah mempunyai geological certainty. Sekarang regulatory certainty harus kita jadikan keunggulan kompetitif," ujar Fakhrul.

Kedua, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara penerimaan negara, pembangunan industri, keberlanjutan lingkungan dan daya tarik investasi. Berbagai instrumen seperti royalti, PNBP, devisa hasil ekspor (DHE) dan kewajiban domestik perlu dilihat sebagai satu ekosistem agar biaya berusaha tetap kompetitif.

"Kita tidak harus memilih antara penerimaan negara dan investasi. Kebijakan yang baik membuat investasi bertambah, industri semakin dalam, dan pada akhirnya basis penerimaan negara justru semakin besar," katanya menjelaskan.

Ketiga, Indonesia perlu memperpanjang rantai nilai domestik pada mineral yang memang menjadi keunggulan nasional. Nikel dapat dikembangkan lebih jauh ke material maju dan industri turunannya, sementara tembaga dan timah dapat diarahkan ke kebutuhan elektrifikasi, jaringan listrik, elektronik dan manufaktur bernilai tambah tinggi.

"Nilai terbesar sebuah mineral tidak selalu berada di tempat ia digali. Nilai terbesar muncul ketika mineral bertemu dengan pengetahuan, engineering, teknologi dan manufaktur," kata dia.

Karena itu, investasi asing belum cukup dinilai dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuan ekonomi baru yang diciptakan.

"Kita tidak hanya membutuhkan investasi yang menambah kapasitas. Kita membutuhkan investasi yang menambah kemampuan," kata Fakhrul menambahkan. (end/ant)