BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

DESTRY SOROTI TANTANGAN EKSPOR DI TENGAH CAD MELEBAR PADA KUARTAL II

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

26 August 2026

23757316

IQPlus, (26/8) - Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti tantangan ekspor di tengah neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang melebar pada kuartal II 2026, sehingga peningkatan ekspor menjadi salah satu pekerjaan rumah untuk memperkuat sektor eksternal.

"Menjadi PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia, dan juga seluruh masyarakat kita adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan," kata Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Jakarta, Rabu.

Sebagai catatan, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 12,5 miliar dolar AS (3,3 persen dari PDB), melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0 persen dari PDB).

Ia menjelaskan bahwa transaksi berjalan dalam neraca pembayaran masih menghadapi defisit pada neraca jasa dan pendapatan primer.

Kondisi tersebut turut menyebabkan transaksi berjalan kembali defisit pada triwulan II 2026, sementara neraca perdagangan juga masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan ekspor barang ke depan.

"Jadi akhirnya ini menyebabkan yang kita alami sekarang ini di triwulan II, current account kita defisit, kembali ke defisit karena memang di trade balance kita mempunyai tantangan untuk ekspor barang ini yang perlu kita genjot ke depannya," jelas Destry.

Selama ini, imbuh dia, defisit transaksi berjalan dapat ditutup oleh neraca finansial, terutama melalui investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) yang relatif stabil. Namun, investasi portofolio masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan.

Sejalan dengan itu, jelas Destry, BI mengarahkan kebijakan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memperkuat transmisi kebijakan suku bunga agar suku bunga di pasar dapat lebih melandai.

Ia menyebutkan bahwa suku bunga SRBI saat ini mulai menurun, sementara outstanding SRBI juga telah turun dari level tertinggi hampir Rp1.100 triliun menjadi sekitar Rp1.050 triliun.

"Ini bertahap kami turunkan untuk menambah likuiditas dan supaya suku bunga di market itu lebih bisa terkendali dan align juga dengan suku bunga overnight kita," jelas dia.

Destry mengingatkan bahwa penguatan ketahanan eksternal menjadi salah satu tantangan untuk dapat mendukung nilai tukar rupiah dalam jangka panjang. Sementara itu, pergerakan rupiah dalam jangka pendek juga dipengaruhi oleh sentimen pasar.

"Rupiah itu memang sangat dipengaruhi faktor yang jangka panjang, dan ini lebih fundamental. Tapi juga ada faktor yang jangka pendek, dan ini lebih sentimen," kata dia.

Ia menambahkan bahwa berbagai sentimen, termasuk sentimen global, dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Ketika sentimen membaik, rupiah dapat menguat dengan cepat.

Destry pun memastikan, BI akan memanfaatkan momentum dan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. (end)