BKPM : PROYEK ENERGI HIJAU JADI DAYA TARI RI BAGI INVESTOR LUAR NEGERI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
23 April 2026
11254767
IQPlus, (23/4) - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menilai program-program pemerintah terkait pengembangan energi hijau dan energi baru-terbarukan (EBT) menjadi daya tarik bagi investor luar negeri menanamkan modal di Indonesia.
"Ini sejalan dengan keinginan investasi terutama dari luar negeri. Karena ini adalah investasi yang punya dampak positif terhadap kehidupan dan environment ke depannya," kata Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
"Program-program yang ada ini sejalan dengan appetite investasi mereka, sehingga (minat investasi terkait energi bersih di Indonesia) semakin meningkat," ujarnya menambahkan.
Lebih lanjut, ia mengatakan pemerintah Indonesia sendiri berkomitmen untuk mengakselerasi target Net Zero Emission (NZE) 2060 ke tahun 2050, sehingga program-program yang berhubungan dengan pengembangan energi bersih terus diupayakan.
Menteri Rosan mencontohkan percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang senada dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kapasitas PLTS hingga 100 GW.
Selain itu, ada pula proyek-proyek terkait pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geothermal yang baru-baru ini ia sebut menarik minat investor dari Jepang.
"Hal-hal seperti ini, selain stabilitas pemerintah, juga program-program prioritas pemerintah juga sejalan dengan appetite untuk mereka berinvestasi di Indonesia," kata Rosan.
Ia berharap, dengan meningkatnya minat investor global untuk ikut menanamkan modal dan mengembangkan proyek terkait energi ramah lingkungan, dapat berdampak lebih luas termasuk dalam penyerapan tenaga kerja.
Rosan mengatakan, pemerintah Indonesia sangat terbuka dengan potensi pemberian berbagai kemudahan dan stimulus bagi investor yang berkomitmen pada pengembangan energi hijau dan dampaknya pada sektor ketenagakerjaan dalam negeri.
"Kalau investasi di bidang renewable, penyerapan tenaga kerja tinggi, kita terbuka untuk memberikan insentif juga. Jadi parameter kita, insentif itu diberikan tidak semata-mata nilai investasi yang besar, tapi yang kita lihat juga adalah dari segi penyerapan tenaga kerjanya," ujar Rosan yang juga CEO Danantara itu. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
