BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

BEI UNGKAP 92 AB SIAP PENERAPAN SAHAM Rp1 PADA 28 SEPTEMBER

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

16 September 2026

25857173

IQPlus, (16/9) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan sebanyak 92 Anggota Bursa (AB) sudah menyatakan kesiapannya untuk mengikuti perubahan batas minimum harga saham dari saat ini senilai Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham, sehingga hanya tersisa 1 AB yang belum siap mengikuti perubahan tersebut.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengungkapkan bahwa BEI bersiap untuk mengimplementasikan perubahan batas minimum harga saham tersebut pada 28 September 2026.

"Per hari ini, tinggal satu Anggota Bursa (AB) yang masih kita tunggu kesiapannya. Oleh karena itu, kami sangat optimis untuk MOC (Management of Change) di hari Sabtu (19/09), satu Anggota Bursa itu bisa ikut MOC dan kemudian siap untuk bisa ikut dalam perdagangan di tanggal 28 (September) nanti yang sudah tidak lagi menggunakan harga minimum Rp50," ungkap Jeffrey diwawancarai awak media di Ruang Media BEI, Jakarta, Rabu.

Terkait satu AB yang belum siap, Jeffrey memperkirakan disebabkan karena adanya kendala yang bersifat teknis, sehingga bukan sesuatu yang perlu untuk dikhawatirkan dan optimistis satu AB tersebut akan siap sebelum 28 September 2026.

"Harusnya kendala yang sifatnya sangat teknis, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, jadi sangat teknis, harusnya aman." ujar Jeffrey.

Menjelang implementasi, pihaknya memastikan kesiapan infrastruktur BEI dalam menghadapi perubahan batas minimum harga saham dari saat ini senilai Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham tersebut.

"Kalau infrastruktur bursa, sudah sangat siap. Oleh karena itu, waktu di pengujian pertama itu tentu yang harus siap itu adalah infrastruktur bursa. Nah sekarang sudah hampir semuanya siap dan yang paling harus siap pertama ya infrastruktur bursa," ujar Jeffrey.

Terkait potensi volatilitas pasar yang terjadi setelah implementasi, ia mengatakan tidak terlalu mengkhawatirkan permasalahan tersebut, justru yang perlu diperhatikan adalah soal infrastruktur BEI yang telah siap menghadapi potensi tersebut.

"Sebenarnya yang kita antisipasi dari sisi bursa sebagai penyedia infrastruktur perdagangan, bukan volatilitas harganya, tetapi adalah trafik ke sistem. Itu yang kita antisipasi. Nah itu sudah dilakukan juga pengujian-pengujian, mudah-mudahan semuanya lancar," ujar Jeffrey. (end/ant)