BANK SENTRAL BELI EMAS DENGAN LAJU TERCEPAT SEJAK AKHIR 2024
Share via
Kategori
Komoditi
Terbit Pada
03 November 2026
30652794
IQPlus, (3/11) - Bank-bank sentral membeli emas dengan laju tercepat sejak akhir tahun 2024 pada kuartal ketiga, meskipun logam mulia tersebut menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak dan suku bunga.
Lembaga-lembaga tersebut mencatatkan akumulasi bersih sebesar 321 ton selama tiga bulan hingga September, menurut laporan World Gold Council (WGC) pada hari Selasa (3 November).
Setelah awal yang lambat pada tahun 2026, angka tersebut menjadikan total pembelian sepanjang tahun berjalan (year-to-date) mencapai 675 ton, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka-angka tersebut menegaskan bagaimana bank sentral yang menjadi pendorong utama kenaikan harga emas selama beberapa tahun hingga mencapai rekor tertinggi pada bulan Januari tetap menjadi penopang penting bagi harga di tengah pasar yang cenderung lesu.
Nilai logam mulia ini telah turun sekitar seperempat sejak perang di Iran dimulai pada akhir Februari, seiring dengan meningkatnya biaya energi yang memicu ekspektasi akan kebijakan moneter yang lebih ketat sebuah faktor penghambat bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Harga emas yang lebih lemah sepanjang kuartal tersebut kemungkinan mendorong sejumlah bank sentral untuk meningkatkan pembelian mereka, ujar John Reade, pakar strategi pasar senior di WGC.
Bagi bank sentral yang memiliki pandangan pesimistis terhadap dolar AS, penguatan mata uang tersebut mungkin justru membuat langkah pengalihan sebagian cadangan ke dalam bentuk emas menjadi lebih menarik, ujarnya.
"Jika Anda beranggapan bahwa dolar AS akan melemah dalam jangka panjang, dan Anda memegang surat utang pemerintah AS (Treasuries) jangka pendek yang akan jatuh tempo, maka mungkin Anda akan menggunakan sebagian dolar AS yang bernilai tinggi tersebut untuk membeli emas," kata Reade.
Hampir dua pertiga dari perkiraan pembelian oleh bank sentral tidak diungkapkan oleh otoritas moneter itu sendiri.
Harga emas cenderung melemah dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan berlanjutnya perang di Timur Tengah yang terus mendorong kenaikan harga minyak mentah serta ekspektasi suku bunga.
Meski demikian, menurut World Gold Council (WGC), arus masuk dana ke dalam reksa dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis emas tercatat sangat kuat; kepemilikan emas dalam instrumen tersebut meningkat sebanyak 211 ton hingga mencapai rekor tertinggi pada kuartal ketiga.
Sementara itu, permintaan perhiasan turun 17 persen menjadi 313 ton level terendah untuk kuartal ketiga sejak data WGC mulai dicatat pada tahun 2000. Perubahan kebijakan pajak di India dan Tiongkok, ditambah dengan harga yang lebih tinggi, membuat konsumen beralih ke perhiasan yang lebih ringan dengan kadar karat yang lebih rendah. (end/Bloomberg)
Riset Terkait
Berita Terkait
