BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    APINDO JAGA EFISIENSI OPERASIONAL DI TENGAH KENAIKAN HARGA ENERGI

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    20 April 2026

    10939328

    IQPlus, (20/4) - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan dunia usaha saat ini fokus untuk menjaga efisiensi operasional di tengah kenaikan harga komoditas energi utamanya bahan bakar minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi.

    "Pelaku usaha cenderung akan mengambil pendekatan yang wait and see, sambil menjaga efisiensi operasional dan stabilitas arus kas," kata Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar saat dihubungi di Jakarta, Senin.

    Sanny mengakui kenaikan harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina per Sabtu (18/4) cukup signifikan dan dapat dipahami sebagai bagian dari penyesuaian dengan kondisi geopolitik saat ini.

    Adapun harga Pertamax Turbo naik sekitar Rp6.300 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing naik sekitar Rp9.400 per liter, yang berarti kenaikan pada jenis BBM diesel nonsubsidi ini mencapai lebih dari 60 persen dibandingkan harga sebelumnya.

    "Kenaikan ini memberikan tekanan tambahan bagi dunia usaha dalam jangka pendek, khususnya bagi industri yang menggunakan BBM nonsubsidi," kata Sanny.

    "Yang menjadi perhatian adalah kenaikan pada jenis BBM berbasis diesel seperti Dexlite dan Pertamina Dex, yang juga digunakan oleh sektor logistik, transportasi barang, serta sebagian aktivitas industri," imbuhnya.

    Dalam struktur biaya dunia usaha, lanjutnya, komponen energi terutama untuk logistik, memiliki porsi yang cukup besar.

    Sanny menilai kenaikan harga diesel ini secara langsung akan meningkatkan biaya distribusi dan berpotensi menekan margin usaha, terutama bagi sektor manufaktur, distribusi, dan komoditas yang sangat bergantung pada mobilitas barang.

    "Selain itu, terdapat timing mismatch antara tren global dan domestik, di mana harga minyak dunia sempat mengalami koreksi, tetapi pada saat yang sama risiko geopolitik kembali meningkat dan harga BBM domestik justru mengalami penyesuaian naik," jelas dia.

    Hal ini menunjukkan adanya lag effect sekaligus tingginya volatilitas dalam transmisi harga energi, yang pada akhirnya tetap harus diabsorpsi oleh pelaku usaha dalam jangka pendek.

    Ia menambahkan, dalam situasi geopolitik saat ini, tekanan terhadap dunia usaha tidak datang hanya dari BBM domestik, tetapi juga dari kenaikan harga energi, ongkos logistik, asuransi pelayaran, gangguan pasokan bahan baku, hingga tekanan nilai tukar.

    "Jadi, penyesuaian BBM nonsubsidi ini sebetulnya bekerja sebagai amplifier terhadap tekanan yang sebelumnya sudah berlangsung. Dengan kata lain, dunia usaha tidak membaca ini sebagai isu tunggal, tetapi sebagai bagian dari akumulasi tekanan biaya pada awal 2026," ujar Sanny.

    Apindo, lanjut dia, berharap stabilitas geopolitik dapat benar-benar terjaga sehingga tren harga energi menjadi lebih mudah diprediksi (predictable) dan memberikan ruang bagi perbaikan struktur biaya dunia usaha. (end/ant)